Kenapa sering keliru?
Banyak penutur bahasa Indonesia menggunakan bentuk 'stadium' karena pengaruh langsung dari bahasa Inggris, terutama melalui media global seperti olahraga internasional, tayangan televisi, atau media sosial. Penulisan dengan 'i' di akhir sering dianggap lebih 'moder, yang menggambarkan konsistensi dengan ejaan Inggris. Selain itu, sistem pembelajaran formal belum selalu menekankan perbedaan halus antara ejaan serapan Latin dan Inggris, menyebabkan masyarakat umum lebih mengenali bentuk 'stadium' dari lingkungan media daripada dari ejaan resmi.
Etimologi & Sejarah
Kata 'stadion' berasal dari bahasa Yunani kuno 'stadion' (στάδιον), yang berarti jarak tempuh sekitar 600 kaki atau sekitar 185 meter, dan awalnya merujuk pada lintasan atletik di Athena Kuno. Kata ini kemudian masuk ke dalam bahasa Latin sebagai 'stadium' dan diteruskan ke berbagai bahasa Eropa, termasuk bahasa Belanda yang memengaruhi bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, bentuk 'stadion' menjadi standar resmi karena mengikuti ejaan yang disempurnakan setelah tahun 1972, yang menyeragamkan penggunaan huruf 'o' dan 'i' dalam kata serapan.
Konteks Budaya
Pemakaian 'stadium' di media massa, terutama dalam konteks olahraga seperti Piala Dunia atau Liga Premier, telah memperkuat kebiasaan penulisan ini. Secara sosial, penggunaan 'stadium' sering dianggap lebih 'modis' atau 'internasional', sehingga beberapa penulis atau pengguna media sosial sengaja memilih bentuk tersebut untuk kesan modern. Namun, dalam konteks formal—seperti dalam dokumen pemerintah, karya ilmiah, atau kurikulum sekolah—'stadion' tetap menjadi bentuk yang benar secara ejaan dan standar.
Konteks Penggunaan
“Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi pusat penyelenggaraan berbagai pertandingan internasional di Jakarta.”
Stadion Utama Gelora Bung Karno serves as the central venue for international sporting events in Jakarta.