Hipotesisnya masuk akal: biarkan model bahasa kontekstual memilih kandidat koreksi terbaik berdasarkan makna kalimat. Diuji A/B dengan satu sakelar dan kunci jawaban 1.500 pasang, akurasi saran justru turun dari 88,3 persen ke 77,1 persen, sementara model itu memakan 98,5 persen waktu analisis.
1.500Pasangan berkunci jawaban88,3%Saran benar, peranking mati77,1%Saran benar, peranking nyala
Kami arahkan pemeriksa ejaan buatan sendiri ke tulisan orang sungguhan, bukan ke kalimat uji. Ia menandai 3.740 hal, dan sebagian besar bukan kesalahan. Ini catatan delapan ronde perbaikannya.
3.740penandaan, ronde 12.554penandaan, ronde 732%turun