Kami Menguji Bagaimana AI Memahami Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah

ibahasa menguji sendiri kemampuan AI memahami bahasa Indonesia, dari ragam baku sampai slang dan dialek daerah, lalu menerbitkan hasilnya lengkap dengan data mentah dan batasannya. Alat ukurnya adalah kamus hidup yang juga kami bangun sendiri: dokumentasi bahasa Indonesia sebagaimana ia benar-benar dipakai.

Apa yang kami lakukan

Kami Mengukur Bagaimana AI Memahami Bahasa Indonesia

Kami mengukur seberapa jauh model AI benar-benar memahami bahasa Indonesia dan bahasa daerah begitu keluar dari ragam baku: slang, dialek, ekspresi budaya, sampai istilah yang cuma dipakai di satu daerah. Alat ukurnya kami susun sendiri dari korpus bahasa Indonesia yang sudah ditinjau oleh manusia, bagian dari kamus hidup yang juga kami bangun (lebih lengkap di bawah).

Jawabannya kami cari sendiri, lalu kami terbitkan satu per satu, lengkap dengan data mentah dan hal-hal yang justru tidak bisa disimpulkan darinya.

Selain laporan tertulis, ada juga versi hidupnya. Battle AI menaruh dua model berdampingan atas satu pertanyaan berbahasa Indonesia dan membiarkan Anda memilih secara buta mana yang menjawab lebih baik, lalu membuka identitas dan skor benchmark keduanya.

Sejak Kapan

Riset ini dimulai 1 Agustus 2026, dan lahir dari kebetulan yang menguntungkan, bukan dari rencana besar yang sudah disiapkan bertahun-tahun. Ada dua pekerjaan teknis yang sedang kami jalankan untuk alasan berbeda, dan keduanya ternyata bertemu di titik yang sama.

Mesin Orkestrasi Benchmark

Untuk menilai jawaban banyak model AI secara konsisten, kami lebih dulu membangun mesin orkestrasi sendiri: sistem yang mengirim ratusan pertanyaan ke berbagai model, mencatat jawabannya, lalu menyusun skornya. Awalnya cuma perkakas internal, bukan sesuatu yang dirancang untuk dipublikasikan.

Editor Pemeriksa Ejaan

Bersamaan dengan itu, kami sedang menggodok editor pemeriksa ejaan bahasa Indonesia, mencoba mengukur seberapa jauh model bahasa bisa diandalkan menangkap kesalahan ejaan pada teks nyata.

Kalau kami sudah punya alat untuk mengukur, kenapa hasilnya cuma dipakai sendiri?

Pertanyaan itu yang akhirnya mendorong kami membangun laman riset ini dan menerbitkan hasilnya secara terbuka. Data mentahnya kami taruh di Zenodo dan Hugging Face Datasets, pembacaannya kami tulis jadi artikel riset dan insight di halaman ini.

Data riset dan data benchmark adalah dua arsip Zenodo terpisah yang diberi versi, masing-masing dengan DOI sendiri. Data benchmark punya arsip Zenodo dan repositori GitHub sendiri. Sisi benchmark juga dicerminkan di Software Heritage, arsip independen yang khusus untuk pelestarian jangka panjang data dan kode sumber terbuka.

Aturan yang Kami Pegang

  • Data uji kami susun dari korpus kami sendiri yang sudah terverifikasi, bukan diambil dari tolok ukur yang sudah beredar di internet. Model tidak mungkin menghafal sesuatu yang belum ada sebelum kami menulisnya.
  • Sebagian butirnya sengaja tidak pernah diterbitkan, supaya tetap bisa dipakai memeriksa apakah suatu model sudah pernah melihat bahan itu.
  • Setiap angka yang terbit menaut ke berkas datanya di repositori publik, dikunci ke versi saat angka itu dikutip, bukan ke rupa berkasnya hari ini.
  • Temuan yang membantah dugaan kami tetap kami terbitkan. Beberapa laporan di sana memang cuma catatan bahwa kami keliru.

Siapa yang Mengerjakan

Fullstack engineer. Kamus dan alat-alat di situs ini saya bangun sendiri, jadi kalau ada yang keliru, itu juga saya. Tiap artikel menaut ke data mentahnya supaya bisa dicek sendiri.

Ini bukan kerja akademis dan belum melewati tinjauan sejawat. Metodenya ditulis terbuka justru supaya bisa dibantah. Kalau ada angka di sini yang menurut Anda keliru, itu justru pesan yang layak dikirim.

Pengetahuan Terbuka, Komunitas Terlindungi

Kamus kami adalah korpus bahasa Indonesia yang kami kurasi sendiri: lema dan maknanya, beserta kontribusi komunitas, dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 (CC BY-NC-SA 4.0). Sebagian entri lain bersumber dari KBBI. Kami tidak memegang hak atas materi itu dan tidak melisensikannya ulang. ibahasa adalah proyek independen, tidak berafiliasi dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa maupun KBBI resmi.

Lihat Lisensi CC BY-NC-SA 4.0