Hipotesisnya masuk akal: biarkan model bahasa kontekstual memilih kandidat koreksi terbaik berdasarkan makna kalimat. Diuji A/B dengan satu sakelar dan kunci jawaban 1.500 pasang, akurasi saran justru turun dari 88,3 persen ke 77,1 persen, sementara model itu memakan 98,5 persen waktu analisis.
1.500Pasangan berkunci jawaban88,3%Saran benar, peranking mati77,1%Saran benar, peranking nyala
Sebelum menulis aturan tata bahasa dari nol, kami menambang seluruh basis aturan LanguageTool untuk mencari apa yang bisa dipinjam. Sepertiganya mustahil dipakai, dan modul untuk bahasa kita tidak ada.
35bahasa punya modul0modul bahasa Indonesia32,8%aturan mustahil dipakai
Tingkat lolosnya 5,8%. Angka itu adalah harga sebenarnya dari verifikasi, dan alasan kenapa "biar AI saja yang urus" bukan jawaban.
744koreksi ditambang43lolos verifikasi5,8%tingkat lolos
Kami arahkan pemeriksa ejaan buatan sendiri ke tulisan orang sungguhan, bukan ke kalimat uji. Ia menandai 3.740 hal, dan sebagian besar bukan kesalahan. Ini catatan delapan ronde perbaikannya.
3.740penandaan, ronde 12.554penandaan, ronde 732%turun