Kenapa sering keliru?
Kesalahan penulisan 'mempesona' sangat mudah dipahami secara fonologis. Penutur bahasa Indonesia secara intuitif merasakan bahwa prefiks meN- yang bertemu dengan konsonan /p/ menghasilkan bunyi sengau /m/, sehingga secara logis mereka menuliskan 'mem-' sebelum kata dasar 'pesona' secara utuh. Pola analogis seperti 'mem-baca', 'mem-buat', atau 'mem-bantu' memperkuat kecenderungan ini. Padahal, kaidah nasalisasi bahasa Indonesia mensyaratkan peluluhan konsonan awal /p/ ketika bertemu dengan prefiks meN-, menghasilkan 'memesona' dan bukan 'mempesona'. Ketidaktahuan akan kaidah peluluhan ini, ditambah dengan dominasi penggunaan bentuk salah di media sosial dan tulisan sehari-hari, membuat varian 'mempesona' terasa lebih 'benar' di telinga dan mata banyak orang.
Etimologi & Sejarah
Kata 'memesona' berasal dari kata dasar 'pesona', yang diserap dari bahasa Sansekerta 'prasanna' (berarti jernih, menyenangkan, atau memikat). Kata ini masuk ke dalam kosakata Melayu-Indonesia untuk menggambarkan daya tarik atau kekuatan yang memikat hati. Proses pembentukannya mengikuti kaidah morfologi bahasa Indonesia, yaitu penambahan prefiks (awalan) meN- pada kata dasar 'pesona'. Karena kata dasar 'pesona' diawali dengan fonem konsonan /p/, maka sesuai dengan kaidah nasalisasi, konsonan /p/ tersebut luluh (lesap) dan digantikan oleh nasal /m/, sehingga bentuk bakunya adalah 'me-m(p)esona' → 'memesona', bukan 'mempesona'.
Konteks Budaya
Kata 'memesona' kerap muncul dalam konteks sastra, jurnalisme hiburan, serta percakapan sehari-hari untuk memuji penampilan, pertunjukan, atau kepribadian seseorang. Akibat tingginya frekuensi penggunaannya di media sosial, blog, dan platform digital, bentuk tidak baku 'mempesona' justru menjadi jauh lebih dominan secara statistik dibandingkan bentuk bakunya. Fenomena ini mencerminkan sebuah tegangan klasik dalam sosiolinguistik antara norma kodifikasi (apa yang ditetapkan sebagai baku) dan norma penggunaan (apa yang sesungguhnya dipakai masyarakat). Bagi sebagian kalangan, penggunaan 'memesona' bahkan terasa janggal atau terkesan hiperkorektor, padahal justru itulah satu-satunya bentuk yang sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia yang berlaku.
Konteks Penggunaan
“Penampilan penari itu begitu memesona hingga seluruh penonton terdiam takjub.”
The dancer's performance was so memesona (enchanting) that the entire audience fell into a stunned silence.