Kenapa sering keliru?
Salah kaprah ini terjadi karena pengguna bahasa cenderung melakukan analogi dengan prefiks 'ter-' yang sangat dominan dalam sistem kata kerja Indonesia, seperti pada kata 'terlambat' atau 'terlelap'. Masyarakat merasa ada yang kurang jika huruf 'r' tidak disertakan, sehingga terjadi hiperkorek pelafalan yang menganggap 'terlanjur' terdengar lebih alami.
Etimologi & Sejarah
Kata ini berasal dari bentukan dasar 'lanjur' yang berarti berlarut-larut atau meluas. Dalam tata bahasa Indonesia, imbuhan yang digunakan adalah prefiks 'te-' bukan 'ter-'. Karena kata dasarnya diawali dengan konsonan 'l', maka terjadi peluluhan atau penghilangan huruf 'r' pada prefiks tersebut untuk menjaga efisiensi pelafalan.
Konteks Budaya
Penggunaan 'terlanjur' telah mendarah daging dalam budaya populer, termasuk dalam lirik lagu dan judul film, yang memperkuat kesan bahwa bentuk ini adalah yang benar. Dalam konteks sosial, penggunaan kata 'telanjur' sering kali dianggap kaku atau bahkan dianggap salah oleh mereka yang tidak memahami kaidah morfologi bahasa yang baku.
Konteks Penggunaan
“Saya sudah telanjur memesan tiket kereta sebelum jadwal pertemuannya diubah.”
I had already (telanjur) booked the train tickets before the meeting schedule was changed.