Definisi: Frasa tanya dalam bahasa Jawa ragam krama inggil yang bermakna “bagaimana” atau “seperti apa”, digunakan untuk menanyakan cara, kondisi, atau keadaan sesuatu hal dengan penuh kesopanan dan penghormatan.
Pelajari SelengkapnyaBahasa gaul itu cair. Jika kata ini punya makna beda di tongkronganmu, tambahkan disini.
agitasi
Hasutan kepada orang banyak (untuk mengadakan huru-hara, pemberontakan, dan sebagainya).
omong kosong
Pembicaraan yang tidak memiliki isi atau makna penting, seringkali tidak benar atau tidak relevan.
penghasutan
Proses, cara, atau perbuatan menghasut; membangkitkan amarah atau permusuhan.
propaganda
Penerangan (faham, pendapat, dan sebagainya) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau tindakan tertentu.
retorika kosong
Gaya berbicara atau tulisan yang bertujuan untuk memengaruhi atau meyakinkan, tetapi tanpa substansi atau janji yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kata “demagogi” berakar dari bahasa Yunani demagogos yang tersusun dari demos (rakyat) dan agogos (pemimpin/penuntun). Dalam bahasa Asing bentuknya muncul sebagai “démagogie” (Perancis), “Demagogie” (Belanda, Jerman) atau “demagoguery/demagogy” (Inggris); Masuk ke bahasa Indonesia melalui kontak kebahasaan modern, terutama via literatur politik kolonial dan terjemahan ilmiah. Secara historis, demagogos awalnya netral—menunjuk pemimpin yang-able to mobilize rakyat—namun sejak abad ke-18 dan ke-19 konsep tersebut mengalami pejorasi ketika praktik meraih kekuasaan melalui pemanfaatan ketakutan, kebencian, atau janji-janji palsu menjadi nyata. Dalam konteks modern, terutama di negara-negara demokrasi termasuk Indonesia, istilah ini dipakai untuk mengkritik figur politik atau gerakan yang menggunakan isu identitas, agama, atau ekonomi secara selektif untuk membangun basis dukungan, sering melalui media massa dan media sosial. Tanda-tanda “demagogi” meliputi: penyederhanaan masalah kompleks, scapegoating kelompok tertentu, pengulangan sloganik, dan janji populis yang tidak realistis. Dalam kajian ilmu politik dan komunikasi, kata ini membawa konotasi negatif dan sering dipakai sebagai label retoris terhadap perilaku yang dianggap merusak deliberasi publik.
Pidato tersebut penuh dengan demagogi yang memanfaatkan amarah rakyat untuk kepentingan politik sepihak.
Merepresentasikan penggunaan nyata dan sesuai konteks leksikal.