Kenapa sering keliru?
Varian 'dzuhur' populer karena adanya upaya penutur untuk mempertahankan kedekatan fonetik dengan huruf asli 'ẓā'. Penggunaan 'dz' dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai representasi yang lebih religius atau 'lebih Arab', meskipun dalam kaidah tata bahasa Indonesia resmi, kombinasi huruf tersebut tidak diakui untuk kata ini.
Etimologi & Sejarah
Kata 'zuhur' berasal dari bahasa Arab 'ẓuhr' (ظهر) yang merujuk pada waktu tengah hari ketika matahari berada di titik tertinggi. Dalam sistem penyerapan bahasa Indonesia, konsonan Arab 'ẓā' (ظ) distandarisasi menjadi huruf 'z' untuk menyederhanakan pelafalan tanpa menghilangkan makna aslinya.
Konteks Budaya
Penggunaan 'dzuhur' sangat kental dalam lingkungan religius dan jadwal salat di masjid-masjid. Fenomena ini menunjukkan adanya sentimen identitas agama di mana ejaan yang mendekati transliterasi Arab dianggap lebih autentik dibandingkan ejaan yang telah disesuaikan dengan fonologi lokal.
Konteks Penggunaan
“Umat Muslim biasanya melaksanakan salat zuhur tepat setelah matahari tergelincir ke arah barat.”
Muslims usually perform the zuhur prayer right after the sun passes its zenith toward the west.