Kenapa sering keliru?
Penggunaan varian 'hadist' terjadi karena pengaruh transliterasi dari bahasa Arab ke huruf Latin yang tidak seragam. Akhiran 't' atau 'ts' sering muncul dalam upaya masyarakat untuk mempertahankan bunyi asli 'tsa' dalam penulisan, yang kemudian secara keliru melekat menjadi akhiran 'st' dalam tradisi tulis non-formal.
Etimologi & Sejarah
Kata ini berasal dari bahasa Arab 'hadits' (حديث) yang merujuk pada segala ucapan, perbuatan, ketetapan, dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW. Dalam proses penyerapan ke dalam bahasa Indonesia, konsonan frikatif dental nirsuara /θ/ (tsa) disederhanakan menjadi bunyi /s/ yang lebih sesuai dengan fonologi lokal.
Konteks Budaya
Secara sosiolinguistik, penambahan huruf 't' mencerminkan keinginan penutur untuk terdengar lebih religius atau lebih dekat dengan sumber aslinya. Meskipun bentuk baku adalah 'hadis', varian 'hadist' sangat umum ditemukan dalam literatur keagamaan populer, undangan pengajian, dan media sosial sebagai bentuk hiperkoreksi.
Konteks Penggunaan
“Setiap Muslim dianjurkan untuk mempelajari hadis sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur'an.”
Every Muslim is encouraged to study the hadis as the second source of Islamic law after the Quran.