Kembali ke Ejaan
Salahmemperhatikan
Bakumemerhatikan

Debat Penulisan: 'Memperhatikan' vs 'Memerhatikan'

tata bahasamorfologi

Kenapa sering keliru?

Kesalahan penulisan 'memperhatikan' terjadi karena penutur cenderung mempertahankan bentuk kata dasar secara utuh, yakni 'perhatikan', lalu sekadar menambahkan awalan 'mem-' di depannya secara intuitif. Proses ini disebut hiperkoreksi semu atau analogi morfologis yang keliru, di mana penutur merasa bahwa menyertakan 'p' dalam penulisan membuat kata tersebut terdengar lebih 'lengkap' dan 'benar'. Padahal, kaidah nasalisasi dalam bahasa Indonesia secara eksplisit mengharuskan peluluhan fonem /p/ ketika bertemu dengan awalan me-, seperti pada 'memukul' (bukan 'mempukul'), 'memanen' (bukan 'mempanen'), dan 'memasak' (bukan 'mempassak').

Etimologi & Sejarah

Kata 'memerhatikan' berasal dari kata dasar 'perhatian' yang diturunkan dari kata 'hati' dengan konfiks per-...-an. Kata kerja aktifnya dibentuk melalui proses afiksasi dengan awalan me- dan akhiran -kan. Dalam kaidah morfofonologi bahasa Indonesia, awalan me- yang bertemu dengan kata dasar berawalan huruf 'p' akan mengalami proses nasalisasi, yaitu huruf 'p' luluh dan digantikan oleh fonem nasal 'em-', sehingga bentuk bakunya adalah 'memerhatikan', bukan 'memperhatikan'.

Konteks Budaya

Varian 'memperhatikan' sangat lazim ditemukan di hampir semua lapisan masyarakat Indonesia, mulai dari percakapan sehari-hari, penulisan di media sosial, hingga dokumen formal seperti surat resmi dan laporan kerja. Kekeliruan ini begitu meluas sehingga banyak penutur asli bahasa Indonesia pun tidak menyadarinya sebagai sebuah kesalahan. Hal ini mencerminkan fenomena sosiolinguistik yang disebut normalisasi kesalahan, di mana sebuah bentuk yang secara kaidah salah justru diterima secara luas oleh komunitas penutur karena frekuensi penggunaannya yang tinggi. Dalam konteks pendidikan bahasa, perbedaan antara 'memerhatikan' dan 'memperhatikan' sering menjadi bahan diskusi dan bahkan perdebatan, karena banyak penutur yang mempertanyakan relevansi kaidah peluluhan ini di era modern.

Konteks Penggunaan

Guru itu meminta seluruh murid untuk memerhatikan papan tulis dengan saksama sebelum ujian dimulai.

The teacher asked all students to pay close attention to the blackboard carefully before the exam began.