Kenapa sering keliru?
Varian 'personil' muncul akibat proses analogi morfologis yang keliru. Penutur bahasa Indonesia cenderung menyamakan akhiran kata ini dengan sufiks '-il' yang terasa lebih familiar dalam kosakata sehari-hari, seperti pada kata 'fosil', 'pensil', atau 'tekstil'. Pola bunyi akhiran '-il' terasa lebih alami dan mudah diucapkan dalam sistem fonologi bahasa Indonesia, sehingga secara tidak sadar penutur menggantinya dari '-el' menjadi '-il'. Fenomena ini disebut hipergeneralisasi, yakni penerapan pola yang dikenal secara berlebihan terhadap kata yang sebenarnya memiliki aturan berbeda.
Etimologi & Sejarah
Kata 'personel' diserap dari bahasa Inggris *personnel*, yang sendirinya berakar dari bahasa Prancis *personnel* dan Latin *personalis*, bermakna 'berkaitan dengan seseorang' (*person*). Dalam konteks modern, *personnel* merujuk pada sekumpulan orang yang bekerja dalam suatu organisasi, instansi, atau angkatan bersenjata. Penyerapan ke dalam bahasa Indonesia mengikuti kaidah fonetis standar, di mana gugus vokal '-el' dipertahankan sesuai dengan pelafalan aslinya, menghasilkan bentuk baku 'personel'.
Konteks Budaya
Ejaan 'personil' sangat lazim ditemukan dalam dokumen-dokumen resmi militer, kepolisian, dan birokrasi pemerintahan Indonesia sejak era Orde Baru. Penggunaan yang berulang dalam konteks kelembagaan ini justru memperkuat kesan bahwa 'personil' adalah bentuk yang benar, bahkan di kalangan profesional. Akibatnya, terjadi naturalisasi sosial di mana varian yang salah secara normatif justru terasa lebih 'resmi' dan 'formal' bagi sebagian besar masyarakat. Hingga kini, 'personil' masih sangat dominan di media massa, papan pengumuman instansi, dan percakapan formal, mencerminkan betapa kuatnya pengaruh kebiasaan kolektif terhadap persepsi kebahasaan.
Konteks Penggunaan
“Seluruh personel keamanan diminta hadir dalam apel pagi sebelum pukul 06.00.”
All security personnel were asked to attend the morning roll call before 06:00.