Kenapa sering keliru?
Penyimpangan 'standarisasi' terjadi karena kecenderungan penutur untuk melakukan penyederhanaan fonetis. Banyak orang mengira kata dasarnya adalah 'standar' (tanpa 'd' di akhir dalam pelafalan umum), sehingga saat diberi imbuhan, mereka langsung menambahkan '-isasi' tanpa menyadari bahwa bentuk formalnya harus mempertahankan konsonan 'd' dari bahasa sumber.
Etimologi & Sejarah
Kata ini berasal dari serapan bahasa Inggris 'standardization'. Dalam proses penyerapannya ke dalam bahasa Indonesia, akhiran '-ization' diubah menjadi '-isasi'. Akar katanya adalah 'standard' yang tetap mempertahankan huruf 'd' di akhir morfem dasar sebelum mendapatkan imbuhan.
Konteks Budaya
Penggunaan 'standarisasi' sangat masif di media massa, dokumen teknis, dan percakapan bisnis karena terdengar lebih luwes saat diucapkan. Hal ini menciptakan fenomena di mana kesalahan tulis dianggap sebagai kebenaran karena frekuensi penggunaannya yang tinggi di ruang publik.
Konteks Penggunaan
“Perusahaan tersebut sedang menjalankan proses standardisasi prosedur kerja untuk meningkatkan efisiensi.”
The company is currently undergoing a process of standardization of work procedures to improve efficiency.