Numeralia
Kata bilangan; kata yang menyatakan jumlah benda atau urutannya dalam suatu deretan.
Sufiks numeralia dalam bahasa Jawa yang digunakan sebagai “akhiran puluhan” untuk menyatakan bilangan dua puluh satu hingga dua puluh sembilan, dengan cara menggabungkan angka satuan di depannya.
pitu likur
Contoh paling umum yang dikenal untuk mengilustrasikan penggunaan `likur` sebagai sufiks numeralia Jawa.
dua puluh
Bukan padanan langsung, tetapi merupakan bentuk standar bahasa Indonesia untuk basis bilangan yang sama. `Likur` hanya merujuk pada sufiks puluhan 21-29, bukan bilangan 20 itu sendiri.
rong puluh
`Rong puluh` adalah bentuk dasar bilangan 20 dalam Jawa ngoko, yang menjadi konteks linguistik di mana `likur` beroperasi.
Kata likur berasal dari kosakata asli bahasa Jawa Kuno yang telah digunakan secara turun-temurun dalam sistem penomoran tradisional Jawa. Kata ini berfungsi sebagai “sufiks numeralia” yang melekat pada angka satuan untuk membentuk bilangan dalam rentang dua puluh satu hingga dua puluh sembilan. Dalam praktiknya, likur selalu didahului oleh angka satuan Jawa, misalnya siji (satu) menjadi siji likur (21), loro (dua) menjadi loro likur (22), hingga songo (sembilan) menjadi songo likur (29). Bilangan dua puluh itu sendiri disebut rong puluh atau selikur dalam varian tertentu. Penggunaan likur mencerminkan sistem numerasi Jawa yang khas dan berbeda dari sistem desimal modern. Sistem ini masih digunakan secara aktif dalam percakapan sehari-hari masyarakat Jawa, terutama dalam konteks menyebut usia, tanggal, atau jumlah barang di lingkungan informal.
Umurku pitu likur, durung omah-omah. (Umurku dua puluh tujuh, belum menikah.)
Merepresentasikan penggunaan nyata dan sesuai konteks leksikal.
Bahasa gaul itu cair. Jika kata ini punya makna beda di tongkronganmu, tambahkan disini.
Definisi: Kata sambung yang digunakan untuk menunjukkan perlawanan atau perbedaan dalam konteks percakapan Jawa, berfungsi sebagai pengganti 'namun' atau 'akan tetapi' dalam bahasa Indonesia formal. Dalam bentuk 'ngoko lugu' atau 'ngoko alus', kata ini menunjukkan nada yang santai namun tetap menjaga kesopanan.
Pelajari Selengkapnya