karena
Kata penghubung untuk menandai sebab atau alasan.
lantaran
Kata penghubung yang sering digunakan dalam konteks percakapan atau narasi untuk menyatakan alasan.
sebab
Kata penghubung yang menyatakan alasan atau latar belakang suatu peristiwa.
Duméh adalah kata hubung yang berasal dari bahasa Sunda dan berfungsi sebagai sinonim informal untuk “karena” atau “disebabkan oleh”. Kata “Dumeh” juga berasal dari Bahasa Jawa yang berarti “Sombong”. Penggunaan kata ini sangat lazim dalam percakapan sehari-hari di kalangan penutur bahasa Sunda, mencerminkan nuansa keseharian dan keakraban dalam komunikasi. Meskipun formalnya dapat diganti dengan “karena”, duméh memberikan sentuhan lokal dan ekspresi yang lebih otentik dalam konteks budaya Sunda.
Aya suratna baé, basana téh ulah nyeri haté, duméh manéhna teu bisa datang lantaran aya halangan. (Ada suratnya saja, bahasanya jangan sampai menyakitkan hati, *karena* dia tidak bisa datang sebab ada halangan.)
Merepresentasikan penggunaan nyata dan sesuai konteks leksikal.
Adjektiva
Kata sifat; kata yang menerangkan nomina (kata benda) dan secara umum dapat bergabung dengan kata lebih dan sangat.
Sikap mental atau perilaku yang menunjukkan “kesombongan” atau keangkuhan karena seseorang merasa memiliki kelebihan tertentu seperti kekayaan, jabatan, atau rupa menawan.
aja dumeh
Ungkapan filosofis Jawa yang memperingatkan agar seseorang tidak sombong meski memiliki kekuasaan atau kekayaan.
jumawa
Istilah serapan yang sering digunakan dalam konteks formal atau sastra.
mentang-mentang
Menekankan pada aspek alasan di balik kesombongan tersebut.
sombong
Padanan kata paling umum dalam bahasa Indonesia baku.
takabur
Sikap merasa diri lebih mulia atau lebih besar dari orang lain, sering digunakan dalam konteks religius.
kumalungkung
Bentuk bahasa Jawa yang lebih sastrawi untuk kesombongan.
angkuh
Fokus pada perilaku lahiriah yang dingin dan tinggi hati.
songong
Varian dialek Jakarta yang memiliki konotasi serupa namun lebih kasar.
Istilah ini berasal dari bahasa Jawa dumeh yang secara harfiah berarti “karena” atau “mentang-mentang”. Dalam konteks budaya Jawa, kata ini sering digunakan dalam falsafah moral “ojo dumeh” yang merupakan peringatan etis agar seseorang tetap rendah hati dan tidak lupa diri saat berada di puncak kejayaan. Secara sosiolinguistik, kata ini mengandung kritik sosial terhadap penyalahgunaan kekuasaan atau status. Penggunaan kata ini sering kali ditujukan untuk mengingatkan bahwa segala kelebihan duniawi bersifat sementara.
Ojo dumeh dadi wong sugih banjur kemayu. (Jangan sombong jadi orang kaya lalu berlagak centil.)
Merepresentasikan penggunaan nyata dan sesuai konteks leksikal.