Adverbia
Kata keterangan; kata yang memberikan keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat secara keseluruhan.
Bentuk ejaan Van Ophuijsen dari kata rupanya, yang berarti kelihatannya atau tampaknya, digunakan untuk menyatakan dugaan, perkiraan, atau kesan berdasarkan penampilan dan situasi yang diamati.
agaknya
Memiliki nuansa perkiraan yang lebih lemah dan lebih tentatif dibanding `rupanya`.
kelihatannya
Kata keterangan yang menunjukkan sesuatu yang tampak atau terlihat dari luar, seringkali mengindikasikan dugaan atau perkiraan.
roepanja
Ejaan lama (tempo doeloe) dari kata 'rupanya' yang berarti 'kelihatannya' atau 'tampaknya'.
rupanya
Kata keterangan yang menyatakan dugaan, perkiraan, atau kesan berdasarkan penampilan atau situasi yang diamati. Merupakan bentuk baku dari 'roepanja'.
tampaknya
Sinonim baku yang lebih menekankan aspek visual dari suatu kesan.
sepertinya
Lebih bersifat komparatif dalam nuansanya, merujuk pada kemiripan dengan suatu keadaan tertentu.
nampaknya
Lebih umum digunakan dalam ragam bahasa Melayu dan beberapa dialek regional Indonesia.
kayaknya
Bentuk gaul urban yang setara maknanya namun jauh lebih rendah tingkat formalitasnya.
Kata roepanja merupakan ejaan Van Ophuijsen dari kata rupanya dalam Bahasa Indonesia modern. Ejaan Van Ophuijsen diberlakukan secara resmi pada tahun 1901 oleh pemerintah kolonial Belanda melalui sistem yang dirancang oleh Charles Adrian van Ophuijsen, seorang ahli bahasa Belanda. Dalam sistem ejaan ini, bunyi vokal u ditulis sebagai oe, sehingga kata rupa berubah menjadi roep- dan sufiks -nya ditulis -nja, menghasilkan bentuk roepanja. Kata dasar rupa sendiri berasal dari bahasa Sanskerta rupa yang berarti bentuk, wajah, atau penampilan. Dalam perkembangannya, kata ini mendapat sufiks -nya yang berfungsi sebagai penanda inferensial, menggeser makna dari sekadar penampilan fisik menjadi dugaan atau perkiraan berdasarkan pengamatan. Setelah Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik diberlakukan pada tahun 1947, penulisan disederhanakan menjadi , sehingga berubah menjadi . Kemudian dengan pemberlakuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada tahun 1972, sufiks distandarisasi menjadi , menghasilkan bentuk baku modern yang digunakan hingga kini.
Anak perampoean itoe roepanja begitoe haloes boedinja dan manis soewaranja. (Anak perempuan itu rupanya begitu halus budinya dan manis suaranya.)
Merepresentasikan penggunaan nyata dan sesuai konteks leksikal.