Diglosia
Definisi & Konteks
Nomina
Kata benda; nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.
Fenomena kebahasaan di mana suatu masyarakat menggunakan dua variasi bahasa secara berdampingan, yaitu “ragam tinggi” dan “ragam rendah”, masing-masing dengan fungsi sosial yang berbeda dan saling melengkapi.
Sinonim & Padanan
bilingualisme
Berkaitan erat namun berbeda secara konseptual. Bilingualisme merujuk pada kemampuan individu, sedangkan diglosia merujuk pada pembagian fungsi sosial di tingkat komunitas.
kedwibahasaan
Pemakaian dua bahasa atau dua ragam bahasa secara bergantian oleh seorang penutur dalam pergaulan dengan orang lain.
pembakuan bahasa
Proses pemilihan dan penetapan salah satu ragam bahasa sebagai standar yang sering kali menciptakan kondisi diglosia.
situasi kebahasaan
Kondisi penggunaan bahasa dalam masyarakat yang mencakup pembagian fungsi antara ragam formal dan informal.
dwibahasaan fungsional
Padanan deskriptif dalam bahasa Indonesia baku yang menggambarkan inti konsep diglosia, meski tidak sepresisi istilah teknisnya.
stratifikasi bahasa
Konsep yang lebih luas mencakup hierarki sosial bahasa secara umum, dengan diglosia sebagai salah satu bentuk stratifikasi yang paling terstruktur.
variasi bahasa
Istilah yang lebih luas dan umum dalam sosiolinguistik, mencakup diglosia sebagai salah satu bentuknya.
alih kode
Alih kode adalah fenomena yang sering terjadi sebagai konsekuensi dari situasi diglosia, namun keduanya merupakan konsep yang berbeda secara linguistik.
Catatan Penggunaan atau Etimologi
Istilah diglosia berasal dari bahasa Yunani diglōssos, yang berarti “dua bahasa” atau “dua lidah”, gabungan dari di- (dua) dan glōssa (lidah, bahasa). Konsep ini kemudian dipopulerkan dalam linguistik modern oleh Charles A. Ferguson melalui artikelnya yang terbit pada tahun 1959 berjudul Diglossia dalam jurnal Word. Ferguson mendefinisikan diglosia sebagai situasi di mana dua variasi bahasa yang berkerabat digunakan secara berdampingan dalam satu komunitas tutur. “Ragam tinggi” (H, dari bahasa Inggris High) digunakan dalam konteks formal seperti pendidikan, agama, dan pemerintahan, sementara “ragam rendah” (L, Low) digunakan dalam percakapan sehari-hari dan konteks informal. Dalam konteks Indonesia, diglosia dapat diamati dalam penggunaan bahasa Jawa, di mana ragam krama berfungsi sebagai ragam tinggi dan ragam ngoko sebagai ragam rendah. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia baku di ranah formal dan bahasa daerah atau bahasa gaul di ranah informal juga mencerminkan gejala diglosia yang meluas.
Contoh Penggunaan
Diglosia masih sangat terasa dalam kehidupan masyarakat Jawa sehari-hari.
Terjemahan Bahasa Inggris
Merepresentasikan penggunaan nyata dan sesuai konteks leksikal.
Punya arti lain untuk "Diglosia"?
Bahasa gaul itu cair. Jika kata ini punya makna beda di tongkronganmu, tambahkan disini.