Soeda
“Kata keterangan waktu yang menyatakan bahwa suatu perbuatan atau peristiwa telah “selesai” atau terjadi di masa lampau.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Kata keterangan waktu yang menyatakan bahwa suatu perbuatan atau peristiwa telah “selesai” atau terjadi di masa lampau.”
“Sebutan bagi perempuan pribumi yang menjadi “gundik” atau istri tidak resmi dari pria keturunan Eropa maupun bangsawan pribumi pada masa Hindia Belanda.”
“Jenis “bendera kecil” atau panji-panji yang dipasang pada sebilah bambu atau kayu, biasanya digunakan untuk dekorasi jalan atau acara adat. Dalam konteks kiasan, istilah ini merujuk pada sesuatu yang tampak mencolok secara visual namun kurang memiliki landasan atau “substansi” yang kuat.”
“Proses pengikisan batuan atau tanah yang terjadi di wilayah pesisir akibat tenaga gelombang laut dan arus pasang surut yang bersifat “merusak”.”
“Sebutan untuk “dialek” bahasa Jawa yang digunakan di wilayah Banyumas dan sekitarnya, yang memiliki ciri khas pelafalan vokal 'a' yang tetap dibaca 'a' atau terbuka, bukan menjadi 'o'.”
“Sesuatu yang dirasakan secara batin atau hati; kepekaan emosional atau intuisi yang mendalam terhadap situasi atau perasaan orang lain, sering kali muncul tanpa kata-kata. Dalam konteks Jawa, merujuk pada perasaan yang tidak terucap namun terasa kuat dalam jiwa.”
“Kata depan yang berfungsi untuk menunjukkan “tujuan” atau arah pergerakan ke suatu tempat atau kepada seseorang.”
“Kata kerja yang berarti “terperosok” atau “jatuh” ke dalam lubang, celah, atau tempat yang lebih rendah secara tidak sengaja.”
“Kata negasi penegas dalam bahasa Jawa dialek Banyumasan (Ngapak) yang digunakan untuk mengekspresikan keheranan, ketidakpercayaan, atau konfirmasi ulang terhadap suatu pernyataan. Setara dengan ungkapan "Masa iya?", "Beneran?", atau "Tenane?" dalam bahasa Jawa umum.”
“Kata dalam bahasa Jawa Ngoko yang merujuk pada “monyet” sebagai makna harfiah, namun lebih sering digunakan sebagai umpatan atau “paraban” bernada negatif untuk menyebut seseorang yang dianggap bodoh, tidak tahu aturan, atau berkelakuan buruk seperti binatang.”
“Sebutan untuk binatang “monyet” dalam tingkat tutur bahasa Jawa ngoko yang sering digunakan pula sebagai kata umpatan atau panggilan akrab di antara teman sebaya.”
“Sesuatu yang menimbulkan rasa takut yang luar biasa atau sangat menyeramkan, sering digunakan untuk menggambarkan suasana, suara, atau kejadian yang memicu ketegangan emosional intens di kalangan penutur bahasa Jawa.”
“Kahanan adalah situasi atau kondisi yang sedang terjadi pada suatu waktu atau tempat, sering digunakan dalam konteks informal untuk menggambarkan keadaan sosial, politik, atau lingkungan. Istilah ini merupakan bentuk slang dari kata formal 'keadaan'.”
“Perasaan was-was, gelisah, atau tidak tenang karena memikirkan sesuatu yang buruk. Istilah ini menggambarkan kecemasan yang mendalam dan terus-menerus, sering kali tanpa alasan jelas, dan sering muncul dalam konteks emosional atau psikologis.”
“Bagian dalam tubuh yang menjadi pusat perasaan, keinginan, dan kehendak, sering digunakan dalam konteks emosional atau spiritual dalam ragam bahasa Jawa. Dalam bentuk informal, 'manah' merujuk pada 'hati' dalam Bahasa Indonesia baku, tetapi dengan nuansa lebih personal dan spiritual dibandingkan dengan penggunaan formal.”
“Kata sambung yang digunakan untuk menunjukkan perlawanan atau perbedaan dalam konteks percakapan Jawa, berfungsi sebagai pengganti 'namun' atau 'akan tetapi' dalam bahasa Indonesia formal. Dalam bentuk 'ngoko lugu' atau 'ngoko alus', kata ini menunjukkan nada yang santai namun tetap menjaga kesopanan.”
“Bentuk informal dari kata 'sikap', merujuk pada cara membawa diri, tingkah laku, atau postur mental dalam suatu situasi, terutama dalam konteks sosial atau emosional. Dalam penggunaan regional Jawa, mencerminkan sikap yang mengandung nuansa kearifan lokal dan norma budaya, sering digunakan untuk menggambarkan perilaku yang tenang, bijaksana, atau penuh pertimbangan.”
“Adjektiva dalam bahasa Jawa Ngoko yang menyatakan kondisi sangat lelah sekaligus sangat kesal atau frustrasi yang mendalam, sering diucapkan dalam nada emosional atau marah akibat perilaku seseorang maupun situasi yang menjengkelkan.”
“Bentuk metatesis dialektal dari kata balapan dalam ragam informal Jawa Timur maupun Jawa Tengah, yang merujuk pada kegiatan balap, terutama balap liar kendaraan bermotor yang berlangsung di ruang publik secara tidak resmi.”
“Istilah slang dalam komunitas otomotif Indonesia yang merupakan “singkatan” dari Solar Busuk, merujuk pada bahan bakar biosolar bersubsidi yang dijual di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina dengan harga terjangkau, namun dianggap memiliki kualitas lebih rendah dibandingkan bahan bakar solar non-subsidi.”
“Tindakan menggantikan posisi seseorang secara sementara, terutama dalam konteks pekerjaan operasional. Istilah ini paling umum digunakan di dunia transportasi bus antarkota, di mana seorang pengemudi cadangan mengisi posisi “pengemudi utama” pada armada tertentu untuk satu atau beberapa rit perjalanan.”
“Sistem operasional armada bus antarkota yang menyelesaikan satu siklus “pulang-pergi” dalam satu hari, di mana bus berangkat dari kota asal menuju kota tujuan pada pagi hari, kemudian kembali ke kota asal pada sore atau malam hari di hari yang sama.”
“Alat pemotong berupa bilah logam bergigi tajam yang digunakan untuk membelah atau memotong benda keras seperti kayu, besi, atau bahan bangunan lainnya. Merupakan bentuk dialek Jawa dari kata “gergaji” dalam bahasa Indonesia standar.”
“Keadaan batin yang tenang, damai, dan bebas dari kekhawatiran. Kata ini menggambarkan kondisi hati yang tenteram, tidak gelisah, dan merasa aman secara emosional.”