Speleng
“Kondisi mekanis pada “kemudi” kendaraan yang memiliki celah bebas atau jarak main berlebih sebelum roda benar-benar bergerak, sering disebut sebagai “speleng”.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Kondisi mekanis pada “kemudi” kendaraan yang memiliki celah bebas atau jarak main berlebih sebelum roda benar-benar bergerak, sering disebut sebagai “speleng”.”
“Kondisi tubuh yang mengeluarkan keringat, biasanya akibat suhu panas, aktivitas fisik, atau rasa gugup. Kata ini merupakan bentuk dialek Jawa yang menggambarkan keadaan “berkeringat” secara aktif dan menyeluruh.”
“Ungkapan dalam ragam gaul Bahasa Jawa yang berarti berbohong atau tidak jujur, digunakan untuk menyatakan bahwa seseorang mengatakan hal yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kata ini berfungsi sebagai “penanda kebohongan” dalam percakapan sehari-hari antarpenutur muda Jawa.”
“Bentuk linguistik yang menyatakan makna kecil, pengecilan, atau penurunan derajat dari kata dasarnya. Dalam morfologi, “diminutif” merujuk pada afiks, kata, atau konstruksi yang memberikan nuansa kecil secara fisik maupun emotif.”
“Kata kerja “ngebaki” merupakan bentuk tidak baku yang berarti “memenuhi” atau “mengisi” suatu ruang hingga menjadi penuh.”
“Biji-bijian atau buah tumbuhan tertentu yang umumnya memiliki kandungan protein tinggi dan terbungkus dalam polong. Kata ini merupakan bentuk ejaan lama untuk menyebut “kacang”.”
“Frasa yang merujuk pada “masa lampau” atau periode sejarah tertentu, sering kali diasosiasikan dengan nostalgia terhadap era kolonial Hindia Belanda.”
“Alat tukar atau standar pengukur nilai yang sah, dikeluarkan oleh pemerintah sebuah negara. Merupakan bentuk ejaan lama dari kata “uang” yang digunakan secara luas pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan.”
“Bentuk ejaan lama untuk kata “gunung”, merujuk pada bagian permukaan bumi yang menjulang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya.”
“Kata keterangan waktu yang menyatakan bahwa suatu perbuatan atau peristiwa telah “selesai” atau terjadi di masa lampau.”
“Sebutan bagi perempuan pribumi yang menjadi “gundik” atau istri tidak resmi dari pria keturunan Eropa maupun bangsawan pribumi pada masa Hindia Belanda.”
“Jenis “bendera kecil” atau panji-panji yang dipasang pada sebilah bambu atau kayu, biasanya digunakan untuk dekorasi jalan atau acara adat. Dalam konteks kiasan, istilah ini merujuk pada sesuatu yang tampak mencolok secara visual namun kurang memiliki landasan atau “substansi” yang kuat.”
“Proses pengikisan batuan atau tanah yang terjadi di wilayah pesisir akibat tenaga gelombang laut dan arus pasang surut yang bersifat “merusak”.”
“Sebutan untuk “dialek” bahasa Jawa yang digunakan di wilayah Banyumas dan sekitarnya, yang memiliki ciri khas pelafalan vokal 'a' yang tetap dibaca 'a' atau terbuka, bukan menjadi 'o'.”
“Sesuatu yang dirasakan secara batin atau hati; kepekaan emosional atau intuisi yang mendalam terhadap situasi atau perasaan orang lain, sering kali muncul tanpa kata-kata. Dalam konteks Jawa, merujuk pada perasaan yang tidak terucap namun terasa kuat dalam jiwa.”
“Kata depan yang berfungsi untuk menunjukkan “tujuan” atau arah pergerakan ke suatu tempat atau kepada seseorang.”
“Kata kerja yang berarti “terperosok” atau “jatuh” ke dalam lubang, celah, atau tempat yang lebih rendah secara tidak sengaja.”
“Kata negasi penegas dalam bahasa Jawa dialek Banyumasan (Ngapak) yang digunakan untuk mengekspresikan keheranan, ketidakpercayaan, atau konfirmasi ulang terhadap suatu pernyataan. Setara dengan ungkapan "Masa iya?", "Beneran?", atau "Tenane?" dalam bahasa Jawa umum.”
“Kata dalam bahasa Jawa Ngoko yang merujuk pada “monyet” sebagai makna harfiah, namun lebih sering digunakan sebagai umpatan atau “paraban” bernada negatif untuk menyebut seseorang yang dianggap bodoh, tidak tahu aturan, atau berkelakuan buruk seperti binatang.”
“Sebutan untuk binatang “monyet” dalam tingkat tutur bahasa Jawa ngoko yang sering digunakan pula sebagai kata umpatan atau panggilan akrab di antara teman sebaya.”
“Sesuatu yang menimbulkan rasa takut yang luar biasa atau sangat menyeramkan, sering digunakan untuk menggambarkan suasana, suara, atau kejadian yang memicu ketegangan emosional intens di kalangan penutur bahasa Jawa.”
“Kahanan adalah situasi atau kondisi yang sedang terjadi pada suatu waktu atau tempat, sering digunakan dalam konteks informal untuk menggambarkan keadaan sosial, politik, atau lingkungan. Istilah ini merupakan bentuk slang dari kata formal 'keadaan'.”
“Perasaan was-was, gelisah, atau tidak tenang karena memikirkan sesuatu yang buruk. Istilah ini menggambarkan kecemasan yang mendalam dan terus-menerus, sering kali tanpa alasan jelas, dan sering muncul dalam konteks emosional atau psikologis.”
“Bagian dalam tubuh yang menjadi pusat perasaan, keinginan, dan kehendak, sering digunakan dalam konteks emosional atau spiritual dalam ragam bahasa Jawa. Dalam bentuk informal, 'manah' merujuk pada 'hati' dalam Bahasa Indonesia baku, tetapi dengan nuansa lebih personal dan spiritual dibandingkan dengan penggunaan formal.”