Meneh
“Kata keterangan dalam dialek Jawa yang bermakna lagi atau kembali, digunakan untuk menyatakan pengulangan suatu tindakan atau keadaan yang terjadi sekali lagi.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Kata keterangan dalam dialek Jawa yang bermakna lagi atau kembali, digunakan untuk menyatakan pengulangan suatu tindakan atau keadaan yang terjadi sekali lagi.”
“Kata dalam bahasa Jawa Ngoko yang berarti “kejadian” atau peristiwa yang telah terjadi, sering digunakan untuk merujuk pada suatu insiden atau hal yang akhirnya benar-benar terwujud setelah sebelumnya diantisipasi atau diperingatkan.”
“Perbuatan atau perkataan yang tidak sesuai dengan kebenaran, digunakan dalam ragam ngoko bahasa Jawa untuk menyatakan tindakan “berbohong” atau tidak berkata jujur.”
“Golongan “senyawa kimia” organik yang memiliki struktur turunan dari katekol, yang berfungsi sebagai “neurotransmiter” atau hormon dalam tubuh.”
“Bentuk atau kategori linguistik yang menyatakan makna besar, lebih, atau peningkatan derajat dari kata dasarnya, berlawanan dengan “diminutif” yang menyatakan makna kecil atau pengurangan.”
“Kondisi kosong atau tidak berisi, merujuk pada benda yang bagian dalamnya hampa, tidak memiliki isi, atau tidak terisi penuh. Kata ini digunakan secara luas dalam percakapan sehari-hari masyarakat Jawa untuk menggambarkan keadaan “hampa” atau “nihil” pada suatu objek maupun kondisi.”
“Kata dalam bahasa Jawa yang merujuk pada “tulang”, yaitu jaringan keras yang membentuk kerangka tubuh makhluk hidup, baik manusia maupun hewan.”
“Kata umpatan dalam bahasa Jawa yang bermakna bodoh atau tidak mampu berpikir dengan baik, digunakan untuk mengekspresikan rasa frustrasi, kekecewaan, atau cemoohan terhadap seseorang yang dianggap tidak cerdas atau tidak kompeten. Kata ini tergolong “umpatan kasar” yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari masyarakat Jawa masa kini.”
“Pewe adalah kata sifat atau ungkapan informal yang mendeskripsikan “posisi tubuh yang sangat nyaman” atau kondisi santai. Istilah ini merujuk pada situasi di mana seseorang merasa betah, rileks, dan tidak ingin mengubah posisi saat beristirahat atau melakukan aktivitas tertentu.”
“Hormon dan neurotransmiter yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, digunakan dalam dunia medis sebagai “obat darurat” untuk menangani kondisi anafilaksis, henti jantung, dan bronkospasme berat dengan cara merangsang reseptor adrenergik.”
“Istilah “slang” yang digunakan untuk merujuk pada kendaraan bermotor “Toyota Innova”, khususnya varian mesin diesel yang populer dalam komunitas otomotif daring di Indonesia.”
“Istilah “slang” yang merujuk pada kendaraan “Toyota Fortuner”, yang sering dikaitkan dengan perilaku berkendara yang agresif atau dominan di jalan raya.”
“Istilah “slang” yang merujuk pada kendaraan bermotor jenis “Pajero Sport” yang populer di kalangan pengguna media sosial di Indonesia.”
“Verba slang yang berarti menjual sesuatu, digunakan dalam konteks percakapan santai dan informal sebagai bentuk plesetan fonetis dari kata “jual”.”
“Kata sifat dalam ragam slang urban Indonesia yang berasal dari kosakata Sunda, digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu yang terkesan kuno, jadul, atau berestetika masa lampau. Sering dipakai dengan nada santai, bahkan bernuansa pujian dalam konteks “vintage”.”
“Kondisi mekanis pada “kemudi” kendaraan yang memiliki celah bebas atau jarak main berlebih sebelum roda benar-benar bergerak, sering disebut sebagai “speleng”.”
“Kondisi tubuh yang mengeluarkan keringat, biasanya akibat suhu panas, aktivitas fisik, atau rasa gugup. Kata ini merupakan bentuk dialek Jawa yang menggambarkan keadaan “berkeringat” secara aktif dan menyeluruh.”
“Ungkapan dalam ragam gaul Bahasa Jawa yang berarti berbohong atau tidak jujur, digunakan untuk menyatakan bahwa seseorang mengatakan hal yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kata ini berfungsi sebagai “penanda kebohongan” dalam percakapan sehari-hari antarpenutur muda Jawa.”
“Bentuk linguistik yang menyatakan makna kecil, pengecilan, atau penurunan derajat dari kata dasarnya. Dalam morfologi, “diminutif” merujuk pada afiks, kata, atau konstruksi yang memberikan nuansa kecil secara fisik maupun emotif.”
“Kata kerja “ngebaki” merupakan bentuk tidak baku yang berarti “memenuhi” atau “mengisi” suatu ruang hingga menjadi penuh.”
“Biji-bijian atau buah tumbuhan tertentu yang umumnya memiliki kandungan protein tinggi dan terbungkus dalam polong. Kata ini merupakan bentuk ejaan lama untuk menyebut “kacang”.”
“Frasa yang merujuk pada “masa lampau” atau periode sejarah tertentu, sering kali diasosiasikan dengan nostalgia terhadap era kolonial Hindia Belanda.”
“Alat tukar atau standar pengukur nilai yang sah, dikeluarkan oleh pemerintah sebuah negara. Merupakan bentuk ejaan lama dari kata “uang” yang digunakan secara luas pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan.”
“Bentuk ejaan lama untuk kata “gunung”, merujuk pada bagian permukaan bumi yang menjulang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya.”