Waktoe
“Ejaan lama dari kata waktu, merujuk pada saat, momen, atau masa tertentu dalam konteks temporal; Digunakan dalam teks-teks berbahasa Melayu dan Indonesia era kolonial sesuai kaidah ejaan Van Ophuijsen.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Ejaan lama dari kata waktu, merujuk pada saat, momen, atau masa tertentu dalam konteks temporal; Digunakan dalam teks-teks berbahasa Melayu dan Indonesia era kolonial sesuai kaidah ejaan Van Ophuijsen.”
“Varian ortografi historis dari bulan yang merujuk pada satelit alami bumi atau satuan penanggalan selama tiga puluh hari. Bentuk ini umum digunakan dalam teks “tempo doeloe” untuk merepresentasikan benda langit atau penanda waktu kronologis.”
“Melompat atau meluncur ke bawah dengan cepat, terutama masuk ke dalam air atau dari ketinggian. Dalam konteks kiasan, kata ini berarti menceburkan diri atau melibatkan diri secara aktif ke dalam suatu situasi, kegiatan, atau bidang tertentu.”
“Prosedur penalaran yang mengeksplorasi kontradiksi antara tesis dan antitesis untuk mencapai kebenaran yang lebih tinggi atau sintesis. Secara luas, ini merujuk pada seni berdiskusi atau metode logika yang menganalisis perubahan melalui pertentangan kekuatan yang saling memengaruhi dalam perkembangan pemikiran atau realitas sosial.”
“Verba yang merujuk pada aktivitas memahami isi tulisan dengan melihat dan mengenali lambang-lambang bunyi. Kata ini merupakan bentuk arkais yang bermakna “melisankan” atau “mencerna” teks tertulis. Istilah ini adalah varian ortografis dari kata modern baca.”
“Sifat atau perilaku seseorang, khususnya anak-anak, yang nakal, bandel, atau sulit diatur. Kata ini merujuk pada sikap pembangkang terhadap nasihat atau perintah orang tua yang cenderung dilakukan dengan sengaja atau penuh tipu daya kecil.”
“Sebuah adverbia penunjuk waktu yang menyatakan durasi yang sangat singkat atau tidak lama. Kata ini berfungsi sebagai penanda aspek temporal untuk menunjukkan suatu jeda pendek atau kondisi segera dalam konteks dialek Banyumasan sebagai padanan kata “sebentar”.”
“Sebuah kata seru atau interjeksi dalam dialek Betawi yang digunakan untuk mengekspresikan kekesalan, kejengkelan, atau kemarahan terhadap perilaku seseorang yang dianggap menyebalkan, tidak bertanggung jawab, atau merugikan. Kata ini berfungsi sebagai makian kasar yang merujuk pada sifat “kurang ajar” atau “menyebalkan”.”
“Sebuah bentuk slang atau ragam percakapan yang berfungsi sebagai kata keterangan atau seruan untuk menanyakan atau menegaskan kebenaran suatu informasi. Kata ini merupakan variasi fonetik dari kata serius yang digunakan dalam konteks santai untuk mengungkapkan rasa terkejut atau keraguan.”
“Kata ganti orang pertama tunggal yang berarti aku atau saya, digunakan secara khas dalam “dialek Banyumasan” (Ngapak) sebagai penanda identitas linguistik masyarakat Jawa bagian barat.”
“Disrupsi adalah fenomena perubahan mendasar yang terjadi secara tiba-tiba dan menyeluruh, yang mengakibatkan terganggunya tatanan lama atau sistem tradisional dan menggantinya dengan model baru yang lebih inovatif serta efisien, khususnya dalam konteks teknologi dan ekonomi.”
“Kemampuan sistem, perangkat, atau organisasi yang berbeda untuk saling bertukar informasi dan berfungsi secara terpadu tanpa hambatan teknis maupun semantis; merujuk pada kapasitas interoperabilitas dalam ekosistem digital maupun institusional.”
“Nama ibu kota Indonesia pada masa pra-kemerdekaan hingga awal masa kemerdekaan yang ditulis menggunakan ejaan Van Ophuijsen. Istilah ini merujuk pada pusat pemerintahan dan ekonomi di pulau Jawa yang kini secara resmi dikenal sebagai Jakarta.”
“Sebuah variasi slang yang merujuk pada tujuan, niat, atau arti tertentu di balik sebuah pernyataan atau tindakan. Kata ini berfungsi sebagai nomina atau verba situasional untuk menanyakan atau memperjelas gagasan yang ingin disampaikan oleh lawan bicara.”
“Nomina. Bentuk ejaan arkais dari bininya yang merujuk pada istri atau pasangan hidup perempuan yang sah dari orang ketiga. Kata ini menggunakan sufiks ganti milik untuk menyatakan hubungan perkawinan dalam konteks bahasa Melayu klasik atau literatur era kolonial.”
“Pemberian atau perolehan “pengakuan” atau “keabsahan” resmi yang menjadikan suatu tindakan, institusi, atau status mempunyai dasar hukum dan diakui oleh publik atau lembaga berwenang. Sering digunakan dalam konteks hukum dan politik.”
“Gagasan, konsep, atau posisi yang merupakan lawan langsung atau kontradiksi mutlak dari suatu pernyataan tesis. Dalam konteks formal, istilah ini merujuk pada pembanding yang digunakan untuk menonjolkan perbedaan ekstrem melalui pertentangan gagasan yang saling meniadakan.”
“Proses “penyebaran” atau “pertumbuhan” yang cepat dan meluas dalam jumlah besar, terutama merujuk pada peningkatan eksponensial dari suatu hal seperti penyakit, teknologi, atau fenomena sosial.”
“Dominasi atau penguasaan oleh satu kelompok, negara, atau ideologi terhadap kelompok lain melalui kekuatan politik, ekonomi, atau budaya. “Hegemoni” merujuk pada “supremasi” atau “kepemimpinan yang mendominasi” dalam relasi kekuasaan.”
“Kondisi sangat haus; rasa haus yang intens sehingga mendorong kebutuhan segera untuk minum. Istilah “Keplongor” digunakan dalam ragam nonformal bahasa Jawa, terutama di wilayah Jawa Tengah.”
“Bentuk ejaan lama dari kata punya, bermakna memiliki atau menunjukkan kepemilikan atas sesuatu; digunakan dalam teks-teks berbahasa Melayu pada era kolonial Belanda.”
“Kata afirmatif dalam bahasa Jawa halus (Krama) yang digunakan sebagai respons untuk mengiyakan panggilan atau perintah, setara dengan “iya” atau “ya” dalam bahasa Indonesia. Diucapkan terutama kepada orang yang lebih tua, namun juga lazim digunakan antar teman sebaya dalam konteks sopan.”
“Bagian depan, permukaan, atau sisi awal dari suatu benda, khususnya merujuk pada nomor “halaman” dalam konteks surat atau dokumen resmi. Merupakan bentuk ejaan lama dari muka yang digunakan untuk menunjukkan letak atau posisi spesifik dalam lembaran korespondensi.”
“Istilah arkaik untuk jiwa yang merujuk pada roh manusia, nyawa, atau daya hidup yang bersifat rohani. Kata ini mendefinisikan esensi batiniah seseorang yang terpisah dari jasad fisik serta menjadi pusat dari perasaan dan pemikiran manusia dalam konteks sastra serta kehidupan.”