Mantoe
“Suami atau istri dari anak sendiri. Bentuk kolokial dan tidak baku dari “menantu”, sering direalisasikan sebagai mantu dan dalam ejaan tempoe doeloe ditulis sebagai “mantoe”.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Suami atau istri dari anak sendiri. Bentuk kolokial dan tidak baku dari “menantu”, sering direalisasikan sebagai mantu dan dalam ejaan tempoe doeloe ditulis sebagai “mantoe”.”
“Verba yang berarti mengarahkan telunjuk atau benda panjang ke arah sasaran tertentu guna memberi tanda, perintah, atau penjelasan. Kata ini merupakan bentuk ejaan lama dari tunjuk yang digunakan untuk menyatakan maksud atau menonjolkan sesuatu agar menjadi pusat perhatian.”
“Sebuah model atau pola yang dijadikan acuan untuk ditiru atau diikuti. Kata ini berfungsi sebagai teladan atau sampel yang menunjukkan rupa atau sifat asli dari sesuatu dalam perbandingan. Turunan dari kata dasar contoh dalam ejaan lama.”
“Kondisi malang atau sial yang menimpa seseorang; ungkapan kecelakaan atau nasib buruk yang digunakan dalam bahasa Melayu-Indonesia era kolonial, merupakan varian ejaan lama dari kata “celaka”.”
“Ejaan lama dari kata “minggu”, merujuk pada satuan waktu tujuh hari atau hari ketujuh dalam sepekan, sesuai dengan sistem ejaan Van Ophuijsen yang berlaku pada era kolonial Hindia Belanda.”
“Ejaan lama dari kata jauh, merujuk pada kondisi atau keadaan yang memiliki jarak panjang antara dua titik atau tempat; tidak berdekatan secara fisik maupun metaforis.”
“Kata yang digunakan untuk menyatakan “waktu” atau jam tertentu dalam sehari; merupakan ejaan lama dari kata pukul yang lazim digunakan pada era kolonial Hindia Belanda.”
“Kata penyangkalan atau penolakan yang merupakan varian ejaan lama dari kata tidak, digunakan dalam teks-teks berbahasa Melayu era kolonial untuk menyatakan negasi atau ketidaksetujuan terhadap suatu pernyataan.”
“Bentuk ejaan lama dan informal dari kata masih, yang berarti tetap berada dalam kondisi atau keadaan yang belum berubah hingga waktu yang dimaksud.”
“Ejaan lama dari kata kerja, merujuk pada aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh nafkah atau memenuhi kewajiban sehari-hari.”
“Kelompok sosial “kelas menengah atas” yang memiliki dan menguasai sarana produksi, modal, serta aset ekonomi dalam sistem kapitalisme; merujuk pada kelas pemilik modal yang mendominasi struktur ekonomi dan politik.”
“Proses biokimia pada tumbuhan, alga, dan beberapa bakteri untuk menghasilkan energi kimia melalui konversi energi cahaya matahari. Mekanisme ini mengubah air dan karbon dioksida menjadi senyawa organik kompleks berupa glukosa dan melepaskan oksigen sebagai produk sampingan dalam ekosistem.”
“Keseluruhan proses kimiawi dalam organisme hidup yang mengubah makanan dan nutrisi menjadi energi melalui mekanisme anabolisme dan katabolisme. Proses ini krusial untuk memelihara kehidupan, pertumbuhan sel, hingga pembuangan sisa limbah biologis untuk menjaga stabilitas internal tubuh.”
“Teknik analisis ilmiah yang mempelajari interaksi antara radiasi elektromagnetik dan materi untuk menentukan struktur, komposisi, atau sifat fisik suatu zat. Metode ini mengukur intensitas cahaya yang diserap, dipancarkan, atau dihamburkan sebagai fungsi dari panjang gelombang atau frekuensi.”
“Cabang filsafat yang menyelidiki hakikat dasar mengenai “keberadaan” dan “realitas”. Dalam klasifikasi logis, istilah ini merujuk pada sistem formal yang mendefinisikan kategori, properti, serta hubungan antar entitas dalam domain pengetahuan tertentu.”
“Memiliki perasaan, sikap, atau pikiran yang bertentangan secara simultan terhadap suatu subjek atau situasi. Kondisi ini ditandai dengan kehadiran dua nilai atau dorongan yang berlawanan dan saling tarik-menarik sehingga menghasilkan keraguan atau ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.”
“Kata penghubung yang menyatakan “sebab” atau “alasan”; sering digunakan dalam konteks informal sebagai pengganti kata “karena”.”
“Kata dalam bahasa Jawa yang merujuk pada perempuan atau individu berjenis kelamin “wanita”; digunakan secara luas dalam ragam Ngoko maupun percakapan sehari-hari masyarakat Jawa.”
“Bentuk “krama” (ragam halus) dalam bahasa Jawa untuk menyebut perempuan atau wanita, digunakan sebagai padanan sopan dari kata wadon dalam ragam ngoko.”
“Kata dalam bahasa Jawa yang merujuk pada jenis kelamin atau individu berjenis kelamin “laki-laki”; digunakan dalam ragam Ngoko sebagai padanan informal dari kata kakung (Krama) atau laki-laki dalam bahasa Indonesia.”
“Sebuah konjungsi subordinatif dalam bahasa Jawa yang berfungsi untuk menyatakan alasan atau penyebab suatu peristiwa. Kata ini merupakan bentuk krama yang digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara, setara dengan kata “karena” atau “sebab” dalam bahasa Indonesia.”
“Sebuah kata penghubung atau konjungsi kausalitas yang berfungsi untuk menunjukkan alasan, penyebab, atau titik awal terjadinya suatu peristiwa. Kata ini secara langsung menghubungkan situasi akibat dengan sumber pemicunya, bermakna serupa dengan “karena” atau “sebab”.”
“Kata ganti orang pertama tunggal dalam ragam bahasa Jawa “krama” (tingkat tutur halus), digunakan oleh penutur untuk merujuk pada diri sendiri secara sopan dan hormat kepada lawan bicara yang lebih tua atau memiliki kedudukan lebih tinggi.”
“Bentuk krama dari kata melu yang berarti ikut serta, mendampingi, atau berpartisipasi dalam suatu kegiatan atau keadaan. Kata ini mencerminkan tindakan menyertai pihak lain dalam konteks formal guna menunjukkan rasa hormat dan kesetiaan terhadap lawan bicara atau tokoh yang lebih tinggi kedudukannya.”