saja
“Kata ganti orang pertama tunggal dalam ragam bahasa Melayu arkais dan ejaan lama, bermakna “saya” atau “aku”; digunakan sebagai subjek maupun objek dalam kalimat.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Kata ganti orang pertama tunggal dalam ragam bahasa Melayu arkais dan ejaan lama, bermakna “saya” atau “aku”; digunakan sebagai subjek maupun objek dalam kalimat.”
“Merasa enggan atau khawatir untuk melakukan sesuatu karena “rasa segan”, tidak enak hati, atau tidak ingin menyakiti perasaan orang lain.”
“Ungkapan yang digunakan untuk meminta izin atau permisi ketika “melewati” seseorang atau saat hendak mengajukan pertanyaan atau interupsi. Kata ini bertujuan mencegah kesan tidak sopan dan menunjukkan “rasa hormat” kepada lawan bicara.”
“Partikel jawa yang bermakna ya atau setuju, dipakai untuk menyatakan persetujuan, penerimaan, pengakuan, atau pengesahan informasi secara sopan dan hormat; “nggih” menandakan kepatuhan atau konfirmasi terhadap pernyataan, sekaligus berfungsi sebagai penanda kesopanan dalam interaksi lisan, dan sering dipilih untuk mempertahankan nuansa hormat dalam tutur kata. ”
“Ideologi atau pendekatan politik yang mengklaim mewakili kepentingan “rakyat biasa” melawan kelompok elit yang dianggap korup atau berkuasa secara tidak adil; sering digunakan untuk meraih dukungan massa dengan retorika sederhana dan emosional. Sinonim umum: politik rakyat, politik populer, politik massa, demokrasi jalanan.”
“Perasaan kesal, jengkel, atau tidak nyaman yang dialami seseorang akibat situasi yang tidak menyenangkan atau mengecewakan; merupakan bentuk informal dari kata “sebal”.”
“Bentuk arkais dari kata mau, bermakna ingin, hendak, atau berkeinginan untuk melakukan sesuatu. Digunakan sebagai verba modalitas yang menyatakan kehendak atau niat subjek terhadap suatu tindakan. Ejaan “maoe” merupakan representasi ortografis resmi bunyi 'u' dalam sistem ejaan lama.”
“Tidak pantas atau tidak sesuai dengan norma kesopanan dan etika yang berlaku dalam masyarakat. Merujuk pada perilaku, ucapan, atau tindakan yang dianggap melanggar tata krama serta nilai-nilai budaya Jawa, sehingga dapat menimbulkan rasa malu atau celaan dari lingkungan sosial.”
“Kondisi emosi yang mengungkapkan rasa jengkel, kesal, atau marah dengan tingkat intensitas ringan hingga sedang, biasanya dirasakan karena suatu peristiwa atau perilaku yang tidak sesuai harapan atau menimbulkan ketidaknyamanan.”
““Misti” (Van Ophuijsen) berarti harus, mesti, wajib, atau perlu melakukan sesuatu, mengindikasikan suatu keharusan atau kewajiban. Kata ini menunjukkan bahwa suatu tindakan tidak dapat dihindari atau merupakan persyaratan mutlak.”
“Melanjutkan atau meneruskan suatu tindakan, proses, atau pembicaraan yang sedang berlangsung atau yang sempat terhenti. Kata ini mengindikasikan kelanjutan dari suatu aktivitas atau tugas dari titik di mana ia berhenti atau belum diselesaikan. Dapat juga berarti “melaksanakan instruksi” atau rencana yang telah ada.”
“Bagaimana; bentuk tanya yang menanyakan keadaan, cara, atau kondisi sesuatu dalam bahasa Melayu tempo dulu.”
“Menunjukkan kuantitas atau jumlah yang besar; melebihi rata-rata atau ekspektasi.”
“Aktivitas ngabuburit yang dilakukan dengan cara berkendara, baik menggunakan motor maupun mobil, bersama komunitas atau teman-teman selama bulan Ramadan sambil menunggu waktu berbuka puasa. Kegiatan ini menggabungkan unsur sosial, hiburan, dan riding sebagai sarana mengisi waktu sore hari secara aktif dan menyenangkan.”
“Sesuatu yang terjadi sebagai konsekuensi dari suatu sebab atau tindakan; hasil akhir dari suatu peristiwa.”
“Kata dalam bahasa Jawa tingkat tutur Krama yang bermakna 'banyak' atau 'jumlah yang berlimpah'. Merupakan padanan formal dari kata Ngoko 'akeh'.”
“Ungkapan informal yang digunakan untuk menegaskan kejujuran atau ketulusan pernyataan seseorang dalam percakapan sehari-hari. Merupakan variasi modern dari kata 'jujur' yang dimodifikasi dengan akhiran '-ly' untuk memberikan penekanan tambahan pada maksud pembicaraan.”
“Dalam keadaan rusak, berantakan, atau tidak berfungsi dengan baik; sinonim informal dari kata 'hancur'.”
“Akeh merujuk pada jumlah yang banyak atau besar, sering digunakan dalam konteks informal atau slang di wilayah Jawa untuk menyatakan sesuatu dalam kuantitas yang lebih besar dari biasanya.”
“Istilah slang yang menggambarkan keadaan atau sikap tenang, rileks, dan tidak terburu-buru dalam menghadapi situasi tertentu. Kata ini sering digunakan untuk menganjurkan ketenangan dan menghindari kepanikan, menunjukkan bahwa seseorang tidak mudah khawatir atau tegang.”
“Sikap sinis atau iri yang diekspresikan lewat komentar pedas.”
“Istilah gaul untuk menyebut seseorang yang membayangkan hal-hal tidak realistis atau berlebihan; singkatan dari “halusinasi”. Dalam pemakaian sehari-hari berarti 'berkhayal' atau percaya pada sesuatu yang tidak masuk akal—biasanya digunakan secara bercanda atau mengejek, bukan sebagai istilah medis.”
“Kemampuan atau keterampilan seseorang dalam memikat, merayu, atau menarik perhatian orang lain, seringkali dengan daya tarik personal yang kuat.”
“Djadi adalah ejaan lama dari kata 'jadi', yang berfungsi sebagai penanda konsekuensi, perubahan status, atau permulaan suatu tindakan. Kata ini dapat berarti 'kemudian', 'menjadi', atau 'maka'.”