Bombay
“Menangis tersedu-sedu dengan sangat keras dan berlebihan, biasanya disertai isak tangis yang dramatis.”
Temukan kekayaan kosakata Indonesia, mulai dari bahasa gaul Jakarta hingga dialek daerah yang berumur ratusan tahun, disusun secara alfabetis untuk memudahkan Anda.
“Menangis tersedu-sedu dengan sangat keras dan berlebihan, biasanya disertai isak tangis yang dramatis.”
“Merasa tertarik secara romantis kepada seseorang; menyukai atau mengagumi seseorang dengan perasaan yang lebih dari sekadar pertemanan. Kata ini menggambarkan kondisi seseorang yang menaruh “rasa suka” terhadap orang lain, biasanya dengan perasaan ingin lebih dekat atau menjalin hubungan romantis.”
“Kata pembatas yang menyatakan bahwa sesuatu tidak lebih dari jumlah, kondisi, atau hal yang disebutkan. Berasal dari kosakata bahasa Jawa yang bermakna eksklusif, membatasi ruang lingkup suatu pernyataan menjadi satu pilihan atau kondisi tunggal saja.”
“Kata ganti tanya yang digunakan untuk menanyakan benda, hal, atau keadaan dalam bahasa Sunda. Kata ini merupakan bentuk “loma” atau akrab.”
“Rangkaian cerita, penjelasan, atau pernyataan yang disusun secara berurutan untuk menyampaikan suatu pesan atau sudut pandang tertentu. Dalam konteks informal, “narasi” sering merujuk pada cara seseorang membingkai sebuah isu, peristiwa, atau argumen agar terdengar meyakinkan dan sesuai kepentingan pihak tertentu.”
“Bentuk krama dari kata tau dalam bahasa Jawa, yang bermakna “pernah”, yaitu menyatakan bahwa suatu peristiwa atau tindakan telah terjadi setidaknya satu kali di masa lampau.”
“Nda merupakan kata sapaan informal yang mirip dengan 'bro' atau 'rek', umumnya digunakan di wilayah Semarang dan sekitarnya.”
“Tidak tahu malu; tidak memiliki rasa malu atau segan dalam berperilaku atau bertutur kata dalam situasi apa pun.”
“Kondisi perasaan merinding, takut secara intens, atau diliputi rasa ngeri yang mendalam ketika menghadapi sesuatu yang menyeramkan, berbahaya, atau menegangkan. Sensasi ini bersifat fisik sekaligus emosional, sering kali memicu bulu kuduk berdiri dan perasaan drawasi yang sulit dikendalikan.”
“Menunjukkan posisi atau letak suatu benda yang berada pada ketinggian atau tempat yang lebih tegak dibandingkan titik referensi utama. Dalam konteks abstrak, istilah ini merujuk pada tingkatan, derajat, atau status sosial yang lebih mulia dan terhormat.”
“Nedha adalah istilah bahasa Jawa Kromo Madya yang berarti makan. Kata ini merupakan bentuk halus dari 'mangan' dalam bahasa Jawa ngoko dan digunakan dalam konteks percakapan yang lebih formal atau menghormati lawan bicara.”
“Merasakan kesedihan yang mendalam, kesengsaraan, atau penderitaan akibat beban dan tekanan hidup yang berat; merasa nelangsa dan tak berdaya menghadapi kemalangan.”
“Kata gaul yang merupakan kependekan dari negative thinking, merujuk pada sikap atau perilaku pesimistis yang cenderung meragukan, memperburuk, atau melihat sisi negatif dari suatu situasi, orang, atau kejadian.”
“Sebutan atau label untuk seseorang yang menggunakan sapaan ngab secara berlebihan, khas dari gaya bicara anak muda Jakarta Selatan; merujuk pada individu yang dianggap terlalu ikut-ikutan tren pergaulan “Jaksel”.”
“Aktivitas ngabuburit yang dilakukan dengan cara berkendara, baik menggunakan motor maupun mobil, bersama komunitas atau teman-teman selama bulan Ramadan sambil menunggu waktu berbuka puasa. Kegiatan ini menggabungkan unsur sosial, hiburan, dan riding sebagai sarana mengisi waktu sore hari secara aktif dan menyenangkan.”
“Kata kerja dalam ragam “Krama Inggil” atau “Krama Andhap” bahasa Jawa yang berarti meminjam sesuatu dari pihak lain, digunakan sebagai bentuk tutur halus dan penuh hormat dari kata nyilih atau silih dalam ragam Ngoko.”
“Kata dalam bahasa Jawa yang berarti “depan” atau bagian yang menghadap ke arah tertentu. Digunakan untuk menunjukkan posisi, arah, atau lokasi yang berada di sisi muka suatu objek atau tempat.”
“Kondisi air yang menggenang atau tergenang di suatu permukaan, biasanya setelah hujan turun. Kata ini merupakan bentuk verba aktif dalam ragam ngoko bahasa Jawa yang menggambarkan proses atau keadaan air yang tidak mengalir dan membentuk “genangan” di atas tanah atau permukaan datar.”
“Sebuah kata seru atau interjeksi dalam dialek Betawi yang digunakan untuk mengekspresikan kekesalan, kejengkelan, atau kemarahan terhadap perilaku seseorang yang dianggap menyebalkan, tidak bertanggung jawab, atau merugikan. Kata ini berfungsi sebagai makian kasar yang merujuk pada sifat “kurang ajar” atau “menyebalkan”.”
“Istilah yang digunakan dalam dunia gaming untuk menggambarkan kondisi saat koneksi internet atau server game mengalami penurunan kualitas, sehingga menyebabkan permainan menjadi lambat atau tersendat-sendat.”
“Kondisi fisik yang ditandai dengan rasa “sangat lapar” atau “perut yang kosong dan membutuhkan makanan”. Istilah ini umum digunakan dalam dialek Jawa untuk mengekspresikan kelaparan dengan cara yang lebih ekspresif dan emosional dibandingkan kata “lapar” standar.”
“Kata benda dalam ragam bahasa Jawa Ngoko yang merujuk pada “ilmu”, “pengetahuan”, atau kepandaian; dalam konteks tradisional dan spiritual, istilah ini secara khusus mengacu pada pengetahuan kebatinan, ilmu gaib, atau kearifan esoterik yang diperoleh melalui laku spiritual.”
“Kondisi fisik yang ditandai dengan rasa sakit atau sensasi berdenyut pada bagian kepala, atau secara kiasan merujuk pada perasaan bingung dan kewalahan akibat beban pikiran.”
“Melakukan tindakan berbicara atau berucap, yang secara khusus digunakan dalam tingkatan “Krama Inggil” untuk menghormati lawan bicara atau subjek yang dibicarakan.”
“Sebuah kata tunjuk cara dalam bahasa Jawa ragam ngoko yang digunakan untuk menunjukkan suatu keadaan, metode, atau posisi yang berada dekat dengan penutur. Kata ini berfungsi sebagai bentuk demonstratif proksimal yang bermakna “begini” atau “seperti ini”.”
“Ngepret adalah istilah slang yang digunakan untuk menggambarkan tindakan memukul atau menampar dengan keras dan tiba-tiba.”
“Membawa atau mengangkut sesuatu dari satu tempat ke tempat lain. Kata kerja aktif ini merujuk pada aktivitas memindahkan objek dengan cara memegangnya atau menjunjungnya agar berpindah posisi bersama subjek pelaku.”
“Melakukan suatu tindakan untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu, merupakan bentuk verba yang menyatakan proses “membuat” dalam konteks bahasa Jawa informal.”
“Melakukan tindakan untuk “membangkitkan” atau memicu munculnya suatu perasaan, keinginan, atau kondisi tertentu dari keadaan diam atau pasif. Bisa juga berarti membangunkan seseorang dari kondisi tidur.”
“Bagian yang terletak pada posisi lebih rendah atau di bawah sesuatu, terutama dalam konteks ruang atau urutan. Istilah ini mengacu pada “lokasi bawah” atau “posisi inferior” dalam bahasa Jawa.”
“Kondisi tidur yang sangat nyenyak dan pulas, di mana seseorang tampak tidak bergerak sama sekali, seolah-olah terlelap sangat dalam tanpa gangguan apapun. Kata ini digunakan dalam ragam bahasa Jawa Ngoko untuk menggambarkan kualitas tidur yang “luar biasa” dalam.”
“Aktivitas bepergian atau mengunjungi orang lain dengan tujuan bersilaturahmi, menikmati perjalanan santai, atau sekadar berkeliling tanpa tujuan yang terlalu spesifik. Kata ini merupakan bagian dari kosakata bahasa Jawa yang mencerminkan kebiasaan sosial masyarakat Jawa dalam menjaga hubungan antarmanusia melalui kunjungan langsung.”
“Adverbia penunjuk dalam bahasa Jawa ngoko yang merujuk pada suatu cara, keadaan, atau perilaku yang spesifik. Kata ini berfungsi untuk menunjukkan keseragaman atau kesamaan dengan hal yang telah disebutkan atau dipahami sebelumnya dalam percakapan informal dengan makna “begitu” atau “demikian”.”
“Sebuah adverbia penunjuk dalam tingkatan krama yang bermakna “demikian” atau “begitu”. Kata ini berfungsi untuk menunjukkan suatu cara, keadaan, atau pernyataan yang telah disebutkan sebelumnya dengan nada bicara yang sopan dan lebih halus dibandingkan bentuk ngono.”
“Kata demonstratif dalam bahasa Jawa tingkat krama yang berarti “ini”, digunakan untuk merujuk pada benda, orang, atau situasi yang berada dekat dengan pembicara.”
“Kata ganti penunjuk dalam bahasa Jawa tingkatan krama yang digunakan untuk merujuk pada benda, keadaan, atau hal yang letaknya jauh dari pembicara namun dekat dengan lawan bicara. Kata ini berfungsi sebagai bentuk formal dari kata kuwi dan setara dengan kata “itu” dalam bahasa Indonesia.”
“Kata kerja dalam ragam “Krama Inggil” bahasa Jawa yang berarti melihat atau menyaksikan sesuatu; setara dengan kata ndelok (Ngoko) atau ningali sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada lawan bicara yang lebih tua atau lebih dihormati.”
“Sesuatu yang bersifat jelas, terang, dan dapat dilihat dengan gamblang oleh panca indra. Kata ini merujuk pada kondisi yang “benar-benar terbukti” atau fakta yang tidak diragukan lagi kebenarannya dalam konteks fisik maupun pemikiran.”
“Kata keterangan yang menunjukkan posisi atau lokasi di bagian “dalam” suatu ruang, benda, atau area tertutup. Kata ini berfungsi untuk menyatakan keberadaan sesuatu yang tidak tampak dari luar atau tertutup oleh batas fisik.”
“Pernyataan atau pendapat yang dianggap “tidak terbantahkan” dan “mutlak benar”, sehingga tidak perlu atau tidak mungkin untuk diperdebatkan lebih lanjut.”
“Nokip adalah kata kerja dalam ragam “prokem” Indonesia era 1980-an yang berarti melakukan kegiatan minum minuman beralkohol, biasanya dilakukan secara bersama-sama dalam suasana pergaulan.”
“Sifat atau kondisi seseorang yang jarang atau sama sekali tidak mau bersosialisasi, menghabiskan sebagian besar waktu menyendiri, dan tidak memiliki kehidupan sosial yang aktif. Istilah “nolep” menggambarkan individu yang lebih memilih aktivitas soliter seperti bermain gim, menonton konten daring, atau berdiam diri di rumah dibandingkan berinteraksi dengan orang lain.”
“Kelas kata yang berfungsi untuk mengacu pada seseorang, benda, tempat, atau konsep abstrak, yang secara sintaksis sering menempati posisi subjek atau objek dalam struktur kalimat. Dalam tata bahasa Indonesia, “nomina” sering disebut sebagai kata benda.”
“Berkaitan dengan “norma”, kaidah, atau standar yang mengatur perilaku, nilai, atau penilaian tentang apa yang seharusnya terjadi dalam suatu sistem atau masyarakat.”
“Merupakan falsafah Jawa legendaris yang berarti menerima keadaan atau nasib dengan ikhlas dan pasrah, tanpa mengeluh atau melawan”
“Pengguna baru di platform internet yang melanggar aturan atau kebijakan karena tidak membaca panduan, petunjuk, atau syarat dan ketentuan yang berlaku.”
“Tindakan memperlihatkan atau menghadirkan sesuatu secara visual maupun abstrak untuk diketahui oleh orang lain. Kata ini merupakan varian verba dalam bahasa Jawa yang berfungsi untuk “menunjukkan” suatu bukti, ciri, atau keberadaan sesuatu.”
“Panggilan akrab untuk ibu atau perempuan yang lebih tua dalam masyarakat Betawi.”
“Melakukan tindakan “meminjam” barang atau uang dari orang lain, atau dalam konteks tertentu berarti melakukan suatu pekerjaan.”
“Tindakan “mencapai” sebuah titik, menyentuh, atau memegang suatu objek secara fisik maupun metaforis. Bisa juga diartikan memegang sesuatu.”
“Melakukan kegiatan berbicara secara berkelanjutan tanpa jeda dengan tempo yang sangat cepat, seringkali dilakukan tanpa memedulikan pemahaman atau tanggapan dari lawan bicara.”
“Melakukan tindakan “meminjam” sesuatu milik orang lain untuk digunakan sementara waktu dengan maksud untuk mengembalikannya.”
“Sifat atau perilaku seseorang yang gemar mengulang-ulang kritik secara “pedas” atau memberikan komentar negatif yang mencemooh terhadap hal-hal yang dianggap sepele.”
“Duduk atau bertengger di tempat yang agak tinggi dengan santai, biasanya dengan kaki menggantung”
“Berbicara dengan pembahasan yang terlalu tinggi, sulit dimengerti atau terlalu rumit dan berlebihan. Merupakan reduplikasi dari “ndakik” (tinggi/berlebihan)”
“Istilah “ndeso” merujuk pada perilaku atau gaya hidup yang dianggap ketinggalan zaman, norak, atau kuno, seringkali diasosiasikan dengan kebiasaan dari pedesaan yang belum “modern.” Kata ini dipakai untuk menggambarkan seseorang atau sesuatu yang kurang mengikuti tren atau selera “kotaan” dan bisa bermakna merendahkan.”
“Kata dalam bahasa Jawa yang berarti mendorong atau menyodorkan sesuatu dengan lembut atau perlahan. Bisa juga memiliki maksud menggesekan anggota badan ke orang lain.”
“Sapaan santai antar teman, bentuk kebalikan dari kata 'bang'.”
“Ngabuburit bukan hanya “menunggu waktu berbuka”, tetapi sudah menjadi ritual sosial yang membentuk budaya kolektif selama bulan Ramadan. Aktivitas mengisi waktu menjelang buka puasa dengan berbagai kegiatan ringan, terutama di area publik atau tempat makan.”
“Bergerak atau pergi dengan cepat dari suatu tempat, biasanya karena ingin menghindari sesuatu atau terburu-buru mencapai tujuan. Menggambarkan tindakan melarikan diri atau berpindah lokasi secara tergesa-gesa. Kata ini menekankan kecepatan dan urgensi perpindahan, sering kali dengan nuansa spontan dan tanpa persiapan panjang.”
“Kondisi ketika koneksi internet tiba-tiba putus, lambat, atau tidak responsif, sehingga perangkat atau aplikasi menjadi tidak berfungsi dengan baik”
“Berteriak atau bersuara keras dengan suara yang kasar dan tidak terkendali, biasanya karena marah atau emosi yang meluap”
“Berbicara ke mana-mana tanpa arah atau inti.”
“Kata pengganti untuk sesuatu yang lupa atau tidak ingin disebutkan dengan jelas, semacam 'thingy' atau 'whatchamacallit'.”
“Berhasil menyentuh perasaan atau pikiran seseorang secara tepat dan mendalam; terasa relevan dan berdampak secara emosional. Digunakan untuk menggambarkan suatu pernyataan, karya seni, lirik lagu, atau ucapan yang “mengena”, yakni beresonansi kuat dengan pengalaman atau kondisi batin seseorang hingga menimbulkan respons emosional yang nyata.”
“Tidak menggunakan akal sehat atau logika; bodoh, tidak berpikir dengan benar”
“Dalam Bahasa Jawa (terutama dialek Jawa Timuran), nggapleki berarti mencela, menghina, atau merendahkan orang lain dengan kata-kata pedas. Biasanya bernuansa mengejek atau mempermalukan.”
“Kata sapaan atau persetujuan dalam bahasa Jawa Krama (tingkat tutur hormat) yang berarti 'ya' atau 'iya'. Digunakan untuk menunjukkan kesopanan dan penghormatan kepada orang yang lebih tua, atasan, atau dalam situasi formal. Ekuivalen dengan 'inggih' dalam ragam Jawa halus, mencerminkan tata krama dan hierarki sosial dalam budaya Jawa.”
“Partikel jawa yang bermakna ya atau setuju, dipakai untuk menyatakan persetujuan, penerimaan, pengakuan, atau pengesahan informasi secara sopan dan hormat; “nggih” menandakan kepatuhan atau konfirmasi terhadap pernyataan, sekaligus berfungsi sebagai penanda kesopanan dalam interaksi lisan, dan sering dipilih untuk mempertahankan nuansa hormat dalam tutur kata. ”
“Berbicara atau mengomel dengan suara pelan dan tidak jelas, biasanya menunjukkan ketidakpuasan atau kesal”
“Ngoprek adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aktivitas mengutak-atik atau memperbaiki perangkat teknologi, seperti komputer atau gadget, dengan cara yang tidak resmi.”
“Dianggap berlebihan atau tidak enak dilihat.”
“Nyaah adalah partikel atau akhiran dalam bahasa Sunda yang menunjukkan penekanan, keluhan, atau nada menggerutu dengan sedikit rasa tidak puas atau protes yang ringan.”
“Istilah slang informal yang merujuk pada ibu atau orang tua perempuan, berasal dari prokem dengan sisipan 'ok' pada kata 'nyonya' atau sejenisnya.”