Rancak
“Rancak berarti sesuatu yang keren, menarik, atau bagus.”
Temukan kekayaan kosakata Indonesia, mulai dari bahasa gaul Jakarta hingga dialek daerah yang berumur ratusan tahun, disusun secara alfabetis untuk memudahkan Anda.
“Rancak berarti sesuatu yang keren, menarik, atau bagus.”
“Ratifikasi adalah proses “pengesahan” atau pemberian persetujuan formal terhadap suatu perjanjian internasional atau “dokumen” negara oleh pihak yang berwenang.”
“Kata kerja yang berarti 'datang' atau 'hadir', digunakan dalam konteks bahasa Jawa “krama inggil” untuk menunjukkan rasa hormat.”
“Proses berpikir mendalam dan sistematis untuk mengevaluasi pengalaman, tindakan, atau pemikiran yang telah terjadi, dengan tujuan memperoleh pemahaman baru atau perbaikan di masa mendatang. Dalam konteks formal, “refleksi” merujuk pada kegiatan introspektif yang terstruktur, seperti dalam penulisan akademik, evaluasi profesional, atau pengembangan diri.”
“Proses atau perbuatan memulihkan hubungan persahabatan ke keadaan semula atau penyelesaian perbedaan melalui perdamaian. Dalam konteks administrasi, hal ini merujuk pada tindakan mencocokkan data atau laporan keuangan guna mencapai kesepakatan dan konsistensi angka.”
“Konsep fisika yang menyatakan bahwa “ruang” dan “waktu” bersifat relatif terhadap kerangka acuan pengamat, yang dirumuskan oleh Albert Einstein melalui teori relativitas.”
“Kata yang menyatakan rasa “senang”, “suka”, atau “gemar” terhadap sesuatu atau seseorang. Dalam sistem bahasa Jawa, istilah ini dikategorikan sebagai bentuk “krama” yang menunjukkan rasa hormat.”
“Proses “penggandaan” atau pembuatan salinan data secara akurat dalam sistem komputasi untuk memastikan ketersediaan serta integritas informasi.”
“Bentuk ejaan lama untuk kata republik, merujuk pada sistem pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi dipegang oleh rakyat dan dijalankan melalui wakil-wakil yang dipilih. Konsep ini mencakup negara yang tidak dipimpin oleh raja atau kaisar, melainkan oleh pemimpin yang bertanggung jawab kepada warga negara.”
“Sifat atau perilaku seseorang yang dianggap “mengganggu”, menjengkelkan, atau usil sehingga menimbulkan ketidaksenangan bagi orang lain di sekitarnya.”
“Kemampuan suatu individu, sistem, atau komunitas untuk pulih, beradaptasi, dan bangkit kembali dari tekanan, gangguan, atau kondisi “adversitas”. Konsep ini mencakup kapasitas untuk mempertahankan fungsi inti di tengah perubahan yang signifikan, serta kemampuan untuk mentransformasi pengalaman negatif menjadi kekuatan adaptif.”
“Ukuran matematis yang menunjukkan kemampuan suatu bahan untuk menghambat atau “menentang” aliran arus listrik dalam satuan tertentu.”
“Ungkapan yang merujuk pada pertanyaan atau pernyataan yang digunakan untuk menciptakan efek “persuasif” dalam komunikasi, bukan untuk mendapatkan jawaban langsung”
“Rezim adalah sistem pemerintahan atau kelompok kekuasaan yang memegang kendali atas suatu negara dalam periode tertentu. Istilah ini merujuk secara teknis pada “pengaturan” maupun “tata kelola” administratif oleh otoritas yang sedang berkuasa dalam menjalankan kebijakan publik.”
“Perasaan “sungkan”, canggung, atau tidak enak hati saat hendak melakukan sesuatu karena merasa tidak layak, tidak pantas, atau khawatir menyinggung perasaan orang lain; sinonim umum: ewuh, canggung.”
“Keadaan fisik tubuh yang sangat “lemah” atau tidak bertenaga, serta dapat merujuk pada struktur benda yang bersifat “rapuh” dan mudah rusak. Kata ini memberikan penekanan khusus pada kurangnya daya tahan atau ketangguhan dibandingkan dengan kata lemah biasa.”
“Istilah dalam bahasa Jawa yang merujuk pada perayaan “Idul Fitri”, yaitu hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesainya bulan puasa Ramadan. Kata ini digunakan secara luas di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai padanan kosakata lokal untuk menyebut momen lebaran.”
“Tindakan mengkritik, menyindir, atau mengejek seseorang secara tajam dan pedas, sering kali dilakukan secara terbuka di depan orang lain atau di media sosial dengan tujuan humor atau kritik sosial.”
“Ejaan lama dari kata “rumah”, merujuk pada bangunan atau tempat kediaman yang digunakan sebagai tempat tinggal, sesuai dengan sistem ejaan Van Ophuijsen yang berlaku pada era kolonial Hindia Belanda.”
“Bentuk ejaan Van Ophuijsen dari kata rupanya, yang berarti kelihatannya atau tampaknya, digunakan untuk menyatakan dugaan, perkiraan, atau kesan berdasarkan penampilan dan situasi yang diamati.”
“Rakjat adalah istilah yang mengacu pada rakyat biasa atau masyarakat umum pada masa tempoe doeloe (zaman dulu) Hindia Belanda. Kata ini menggambarkan golongan sosial rendah yang tidak memiliki status atau kedudukan tinggi, berbeda dengan para priyayi, pegawai pemerintah, atau bangsawan.”
“Tidak terduga atau tidak nyambung dengan konteks sebelumnya.”
“Sederhana atau murah, sering digunakan untuk humor ringan.”
“Ungkapan penghargaan atau pengakuan positif.”
“Kemampuan atau keterampilan seseorang dalam memikat, merayu, atau menarik perhatian orang lain, seringkali dengan daya tarik personal yang kuat.”