Tengil
“Sifat seseorang yang menjengkelkan namun tetap menggemaskan, lucu, dan lincah; menggambarkan tingkah laku “nakal yang menghibur”, menyebalkan tetapi sulit untuk tidak disuka.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Sifat seseorang yang menjengkelkan namun tetap menggemaskan, lucu, dan lincah; menggambarkan tingkah laku “nakal yang menghibur”, menyebalkan tetapi sulit untuk tidak disuka.”
“Sebutan atau label untuk seseorang yang menggunakan sapaan ngab secara berlebihan, khas dari gaya bicara anak muda Jakarta Selatan; merujuk pada individu yang dianggap terlalu ikut-ikutan tren pergaulan “Jaksel”.”
“Ungkapan seru dalam bahasa Jawa yang menggambarkan perasaan terkejut atau kaget secara tiba-tiba dan mendalam. Biasanya diucapkan sebagai respons spontan terhadap kejadian yang tidak terduga. Kadang ditulis sebagai “Mak tratab”.”
“Bagian atau sisi yang berada di belakang suatu objek, tempat, atau posisi. Kata mburi merupakan kosakata bahasa Jawa Ngoko yang digunakan untuk menyebut arah atau posisi “belakang” dalam percakapan sehari-hari.”
“Kata dalam bahasa Jawa yang berarti “depan” atau bagian yang menghadap ke arah tertentu. Digunakan untuk menunjukkan posisi, arah, atau lokasi yang berada di sisi muka suatu objek atau tempat.”
“Menunjukkan arah ke “kiri”, yaitu sisi tubuh yang berlawanan dengan kanan atau arah tangan kiri menunjuk, sering digunakan dalam petunjuk arah atau posisi.”
“Tengen adalah posisi atau arah yang mengacu pada sisi kanan dari suatu objek atau “perspektif” tertentu. Ini merupakan lawan dari “kiwa” atau kiri, sangat penting untuk menunjukkan orientasi relatif. Secara umum, ini mengacu pada arah di mana sebagian besar manusia memegang dominasi tangan.”
“Bagian yang terletak pada posisi lebih rendah atau di bawah sesuatu, terutama dalam konteks ruang atau urutan. Istilah ini mengacu pada “lokasi bawah” atau “posisi inferior” dalam bahasa Jawa.”
“Keadaan atau posisi yang memiliki “ukuran vertikal” besar, atau “lokasi” yang berada pada posisi lebih tinggi dari sesuatu yang lain. Istilah ini mencakup makna fisik (ketinggian objek) maupun abstrak (tingkat, derajat, atau ranah intelektual dan spiritual).”
“Bentuk ejaan Van Ophuijsen dari kata rupanya, yang berarti kelihatannya atau tampaknya, digunakan untuk menyatakan dugaan, perkiraan, atau kesan berdasarkan penampilan dan situasi yang diamati.”
“Kata bantu aspektual dalam bahasa Jawa yang berfungsi sebagai penanda bahwa subjek jamak sedang melakukan suatu tindakan secara bersama-sama atau dalam waktu yang bersamaan. “Padha” memperkuat makna kolektif dari tindakan yang dilakukan oleh lebih dari satu pelaku.”
“Frasa nominal dalam bahasa Jawa yang merujuk pada tetangga-tetangga di sekitar rumah atau lingkungan tempat tinggal yang paling dekat. Frasa ini merupakan bentuk kolektif dari kata tangga (tetangga) yang dirangkai dengan teparo sebagai penanda kedekatan spasial dan relasional dalam komunitas lokal.”
“Posisi badan yang “menyerong” atau “miring” saat duduk, berdiri, atau mengendarai kendaraan, terutama saat berada di atas sepeda motor atau kendaraan roda dua lainnya.”
“Bentuk penulisan kata buka dalam “Ejaan Van Ophuijsen” yang digunakan pada masa kolonial dan awal kemerdekaan Indonesia. Merujuk pada tindakan menjadikan sesuatu tidak tertutup lagi, baik secara harfiah maupun kiasan, seperti membuka pintu, membuka rahasia, atau memulai suatu kegiatan.”
“Kata depan yang menyatakan tujuan, peruntukan, atau kepentingan suatu tindakan. Merupakan penulisan boeat dalam “Ejaan Van Ophuijsen” yang berlaku sebelum tahun 1947, setara dengan kata buat dalam ejaan modern.”
“Keadaan atau kondisi sudah terbiasa dan akrab dengan sesuatu, baik berupa kegiatan, lingkungan, maupun situasi tertentu, sehingga tidak lagi merasa asing atau canggung.”
“Kata pembatas yang menyatakan bahwa sesuatu tidak lebih dari jumlah, kondisi, atau hal yang disebutkan. Berasal dari kosakata bahasa Jawa yang bermakna eksklusif, membatasi ruang lingkup suatu pernyataan menjadi satu pilihan atau kondisi tunggal saja.”
“Bentuk pasif dari kata kerja mbengok dalam dialek Jawa, yang berarti menjadi sasaran teriakan atau diperlakukan dengan cara dibentak oleh seseorang dari jarak tertentu maupun secara langsung. Kata ini digunakan dalam konteks informal sehari-hari untuk menggambarkan kondisi seseorang yang “diteriaki” atau “dibentak” oleh pihak lain.”
“Kata sifat dalam bahasa Jawa Ngoko yang berarti hitam, yaitu warna gelap menyerupai warna arang, jelaga, atau kegelapan malam. Digunakan untuk mendeskripsikan warna objek, kulit, rambut, atau benda apapun yang memiliki pigmen paling gelap dalam spektrum warna.”
“Kondisi fisik yang ditandai dengan rasa “sangat lapar” atau “perut yang kosong dan membutuhkan makanan”. Istilah ini umum digunakan dalam dialek Jawa untuk mengekspresikan kelaparan dengan cara yang lebih ekspresif dan emosional dibandingkan kata “lapar” standar.”
“Kata ini merujuk pada kondisi “sendirian” atau “tidak bersama orang lain”, seringkali digunakan dalam konteks bahasa Jawa untuk menunjukkan tindakan yang dilakukan secara individu.”
“Kata larangan yang digunakan untuk melarang atau mencegah suatu tindakan, setara dengan “jangan” dalam ejaan modern. Merupakan penulisan djangan berdasarkan sistem Ejaan Van Ophuijsen yang berlaku di Hindia Belanda sebelum tahun 1947.”
“Bentuk arkais dari “seterimanya”, yaitu konjungsi temporal yang bermakna sesudah diterima atau setelah menerima sesuatu, digunakan untuk menandai urutan waktu dalam suatu peristiwa atau tindakan. Kata ini ditulis mengikuti kaidah Ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelum tahun 1947, di mana huruf 'u' ditulis sebagai 'oe' dan akhiran '-nya' ditulis sebagai '-nja'.”
“Bentuk arkais dari kata kerja melarikan, yang berarti membawa diri pergi secara diam-diam atau tergesa-gesa dari suatu tempat tanpa pemberitahuan, sering kali karena rasa takut, malu, atau menghindari konsekuensi tertentu. Kata ini ditulis dalam “Ejaan Van Ophuijsen” yang berlaku sebelum tahun 1947.”