Hidoep
“Berada dalam keadaan bernyawa dan menjalankan fungsi kehidupan. Kata ini merupakan penulisan hidup dalam “Ejaan Van Ophuijsen” yang berlaku sebelum tahun 1947, di mana huruf 'u' ditulis sebagai 'oe'.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Berada dalam keadaan bernyawa dan menjalankan fungsi kehidupan. Kata ini merupakan penulisan hidup dalam “Ejaan Van Ophuijsen” yang berlaku sebelum tahun 1947, di mana huruf 'u' ditulis sebagai 'oe'.”
“Bentuk informal dan dialektal dari kata bisanya dalam bahasa Jawa-Indonesia, yang merujuk pada kemampuan atau hal yang lazim dilakukan oleh seseorang, sering kali dengan nuansa keterbatasan atau sindiran bahwa seseorang hanya mampu melakukan hal tertentu saja.”
“Kata sifat informal yang berarti luar biasa, hebat, atau mengesankan dalam tingkat yang tinggi. Digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu yang melampaui ekspektasi biasa, baik dari segi kualitas, penampilan, maupun performa. Kata ini membawa konotasi positif yang kuat dan penuh kekaguman.”
“Panggilan akrab yang ditujukan kepada “teman dekat” atau sahabat; sering digunakan sebagai sapaan hangat, terutama dalam konteks media sosial dan percakapan digital.”
“Kata seru “Gaskeun” merupakan bentuk “ajakan” atau “perintah” untuk segera melakukan suatu tindakan, melanjutkan aktivitas, atau bergerak cepat.”
“Pernyataan atau pendapat yang dianggap “tidak terbantahkan” dan “mutlak benar”, sehingga tidak perlu atau tidak mungkin untuk diperdebatkan lebih lanjut.”
“Tidak memiliki “faedah” atau manfaat, sering digunakan untuk menyatakan sesuatu yang “tidak berguna” atau membuang-buang waktu dan tenaga. Kata ini merujuk pada kondisi atau aktivitas yang tidak memberikan dampak positif, hasil yang berarti, maupun keuntungan yang dapat dirasakan.”
“Kata seru (interjeksi) dalam bahasa gaul yang digunakan untuk mengekspresikan kekaguman atau penilaian bahwa sesuatu sangat “keren”, mengesankan, atau luar biasa.”
“Menggambarkan kondisi atau tindakan yang terjadi lebih awal dari waktu yang telah ditentukan, dijadwalkan, atau diperkirakan sebelumnya. Kata ini merupakan bentuk informal dari “lebih awal” dalam ragam bahasa Jawa sehari-hari.”
“Verba dalam bahasa Jawa Ngoko yang merujuk pada proses “melahirkan”, yaitu tindakan mengeluarkan bayi dari kandungan seorang ibu. Kata ini digunakan dalam percakapan sehari-hari di lingkungan masyarakat Jawa dengan nuansa akrab dan informal.”
“Sistem pemerintahan di mana “kekuasaan mutlak” terpusat pada satu individu tanpa mekanisme pembatasan atau pengawasan dari pihak lain. (Sinonim: diktator, tiran, otokrat)”
“Bentuk ejaan lama dari kata sebabnya, merujuk pada alasan, penyebab, atau pangkal dari suatu kejadian atau keadaan, yang ditulis menggunakan kaidah “Ejaan Van Ophuijsen” dengan penambahan akhiran posesif ketiga tunggal '-nja' sebagai pengganti '-nya'.”
“Kata bilangan dalam ragam “krama” bahasa Jawa yang bermakna tiga, digunakan sebagai bentuk halus dari kata telu dalam register ngoko.”
“Bilangan pokok dalam bahasa Jawa yang bermakna empat, digunakan dalam ragam ngoko maupun krama sebagai padanan numeralia “empat” dalam bahasa Indonesia standar.”
“Bilangan asli yang bernilai lima dalam sistem numerasi bahasa Jawa, digunakan dalam konteks percakapan sehari-hari maupun tradisi budaya Jawa.”
“Kata dalam dialek Jawa yang bermakna dua atau merujuk pada kondisi bersama, seiring, dan berpasangan dalam satu kesatuan tindakan atau keberadaan.”
“Kata kerja dalam bahasa Jawa yang berarti membeli, yaitu tindakan memperoleh barang atau jasa dengan memberikan sejumlah uang sebagai alat tukar. Kata ini termasuk dalam register “krama” sehingga digunakan dalam situasi yang memerlukan kesopanan atau penghormatan kepada lawan bicara.”
“Bilangan bulat yang bernilai sebelas dalam bahasa Jawa, merupakan bentuk leksikon numeralia Jawa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, khususnya dalam ragam ngoko.”
“Angka atau bilangan sembilan dalam bahasa Jawa, merupakan bentuk “ngoko” dari kata bilangan pokok yang digunakan secara luas dalam percakapan sehari-hari masyarakat Jawa.”
“Adverbia penegasan dalam bahasa Jawa Ngoko yang bermakna sungguh, memang, atau sudah dari sananya, digunakan untuk menegaskan kebenaran, kenyataan, atau kondisi yang tidak perlu dipertanyakan lagi.”
“Kata keterangan dalam dialek Jawa yang bermakna hanya atau “saja”, digunakan untuk membatasi atau menyederhanakan suatu pernyataan.”
“Istilah metaforis bagi individu yang memiliki kecenderungan gaya hidup “kontemplatif” dengan kegemaran pada kopi, musik indie, puisi, serta suasana matahari terbenam.”
“Ungkapan slang yang bermakna setuju atau sepakat, digunakan sebagai respons afirmatif dalam percakapan informal sehari-hari.”
“Kata ajakan atau seruan santai yang bermakna mari atau ayo, digunakan untuk mengajak seseorang melakukan sesuatu secara informal; merupakan bentuk slang dari kata “yuk”.”