Caper
“Perilaku sengaja menarik perhatian orang lain dengan cara yang berlebihan atau mencolok; sinonim populer: “pamer”, “sok eksis”. Merupakan bentuk singkatan dari cari perhatian.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Perilaku sengaja menarik perhatian orang lain dengan cara yang berlebihan atau mencolok; sinonim populer: “pamer”, “sok eksis”. Merupakan bentuk singkatan dari cari perhatian.”
“Seseorang yang sedang disukai secara romantis namun belum resmi menjadi pasangan; dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai calon pacar atau “pujaan hati” yang masih dalam tahap pendekatan (PDKT).”
“Tingkat kelayakan dan daya tarik elektoral seseorang yang mencerminkan seberapa besar kemungkinan orang tersebut dipilih dalam suatu pemilihan umum; Biasanya diukur melalui survei opini dan analisis data pemilih. Istilah ini menjadi konsep kunci dalam memahami dinamika politik dan perencanaan strategi kampanye di Indonesia.”
“Hak konstitusional lembaga legislatif untuk meminta keterangan resmi dan pertanggungjawaban dari pihak eksekutif atas suatu “kebijakan pemerintah” yang dianggap penting atau bermasalah.”
“Bentuk ejaan lama dari kata uruskan, bermakna menyelesaikan, mengatur, atau menangani suatu urusan hingga tuntas.”
“Kata ini mengacu pada segala “aktivitas” atau “tugas” yang dilakukan seseorang untuk mencari nafkah atau sebagai bagian dari tanggung jawabnya, yang secara spesifik merupakan pekerjaan atau profesi yang ditekuni oleh individu tersebut, seringkali terkait dengan rutinitas harian.”
“Kata seru atau “interjeksi” dalam bahasa Jawa yang digunakan untuk mengekspresikan rasa heran, kagum, terkejut, atau takjub terhadap suatu kejadian atau keadaan. Kata ini berfungsi sebagai penanda emosi spontan yang setara dengan “wah” atau “wadhuh” dalam ragam Jawa Ngoko.”
“Frasa tanya dalam bahasa Jawa ragam krama inggil yang bermakna “bagaimana” atau “seperti apa”, digunakan untuk menanyakan cara, kondisi, atau keadaan sesuatu hal dengan penuh kesopanan dan penghormatan.”
“Bentuk tidak baku atau slang dari kata tanya “bagaimana” dalam bahasa Jawa, khususnya dialek Banyumasan (Ngapak). Digunakan untuk menanyakan “cara” atau “keadaan”.”
“Adverbia penegas derajat yang bermakna tidak terlalu atau tidak begitu, digunakan untuk menyatakan bahwa suatu kondisi, kualitas, atau intensitas tidak mencapai tingkat yang ekstrem. Berasal dari pemendekan frasa gak pati dalam dialek Jawa Timuran, khususnya ragam Suroboyoan dan sekitarnya.”
“Pronomina persona kedua tunggal yang digunakan untuk merujuk pada orang kedua dengan tingkat hormat atau formalitas tinggi dalam konteja berbahasa Jawa.”
“Bersikap “sombong” atau arogan secara berlebihan, seringkali disertai sikap meremehkan orang lain; setara dengan kata sehari-hari sok keren atau belagu.”
“Bersifat berlebihan, norak, atau tidak memiliki selera yang baik dalam penampilan maupun gaya hidup; sinonim populer: “norak”, “kampungan”. Istilah ini umumnya digunakan sebagai ejekan terhadap seseorang yang dianggap terlalu lebay dalam bergaya, terutama di kalangan remaja.”
“Kata kerja dalam bahasa Jawa yang berarti bertemu atau berjumpa dengan seseorang secara tidak sengaja; setara dengan kata kepethuk dalam ragam Ngoko, yang dalam bahasa Indonesia sehari-hari dikenal sebagai “ketemu” atau “berpapasan” secara kebetulan.”
“Sifat atau keadaan yang lucu dan menggemaskan sehingga menimbulkan rasa ingin mencubit atau memeluk; sinonim populer: “menggemaskan”, “imut”.”
“Kata kerja dalam ragam “Krama Inggil” bahasa Jawa yang berarti melihat atau menyaksikan sesuatu; setara dengan kata ndelok (Ngoko) atau ningali sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada lawan bicara yang lebih tua atau lebih dihormati.”
“Bentuk slang santai dari kata bisa, yang berarti mampu atau sanggup melakukan sesuatu; sering digunakan sebagai ungkapan persetujuan atau konfirmasi kemampuan, setara dengan kata “oke” atau “bisa” dalam percakapan sehari-hari.”
“Proses berpikir mendalam dan sistematis untuk mengevaluasi pengalaman, tindakan, atau pemikiran yang telah terjadi, dengan tujuan memperoleh pemahaman baru atau perbaikan di masa mendatang. Dalam konteks formal, “refleksi” merujuk pada kegiatan introspektif yang terstruktur, seperti dalam penulisan akademik, evaluasi profesional, atau pengembangan diri.”
“Rangkaian cerita, penjelasan, atau pernyataan yang disusun secara berurutan untuk menyampaikan suatu pesan atau sudut pandang tertentu. Dalam konteks informal, “narasi” sering merujuk pada cara seseorang membingkai sebuah isu, peristiwa, atau argumen agar terdengar meyakinkan dan sesuai kepentingan pihak tertentu.”
“Sudut pandang atau cara seseorang melihat dan memahami suatu situasi, masalah, atau fenomena berdasarkan latar belakang, pengalaman, dan penilaian pribadi. “Perspektif” mencerminkan kerangka berpikir yang membentuk interpretasi seseorang terhadap realitas, sehingga dua orang dapat memaknai kejadian yang sama secara berbeda.”
“Tempat penahanan resmi yang digunakan untuk mengurung individu yang telah terbukti atau diduga melakukan tindak pidana, sehingga kebebasan geraknya dibatasi oleh negara dalam jangka waktu tertentu sesuai putusan hukum. Istilah ini merupakan bentuk kosakata Jawa yang merujuk pada konsep “penjara” dalam sistem peradilan pidana.”
“Kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, memahami, dan menggunakan informasi secara efektif dalam berbagai konteks kehidupan. Dalam pengertian yang lebih luas, “literasi” mencakup tidak hanya kecakapan dasar membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, menganalisis teks, serta mengomunikasikan gagasan secara terstruktur.”
“Bentuk nomina turunan dalam bahasa Jawa ragam Krama Inggil, dibentuk dari kata dasar saged (mampu, bisa) dengan penambahan sufiks posesif -ipun (milik dia/nya); bermakna 'kemampuannya' atau 'kepandaiannya', merujuk pada kapasitas atau kecakapan seseorang yang diacu dalam konteks hormat.”
“Verba pasif dalam ragam ngoko bahasa Jawa yang berarti diantarkan atau dibawa ke suatu tempat oleh orang lain. Kata ini merupakan bentuk pasif dari kata kerja terne atau terke, yang merujuk pada tindakan mengantar seseorang atau sesuatu ke tujuan tertentu.”