Songong
“Bersikap “sombong” atau arogan secara berlebihan, seringkali disertai sikap meremehkan orang lain; setara dengan kata sehari-hari sok keren atau belagu.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Bersikap “sombong” atau arogan secara berlebihan, seringkali disertai sikap meremehkan orang lain; setara dengan kata sehari-hari sok keren atau belagu.”
“Bersifat berlebihan, norak, atau tidak memiliki selera yang baik dalam penampilan maupun gaya hidup; sinonim populer: “norak”, “kampungan”. Istilah ini umumnya digunakan sebagai ejekan terhadap seseorang yang dianggap terlalu lebay dalam bergaya, terutama di kalangan remaja.”
“Kata kerja dalam bahasa Jawa yang berarti bertemu atau berjumpa dengan seseorang secara tidak sengaja; setara dengan kata kepethuk dalam ragam Ngoko, yang dalam bahasa Indonesia sehari-hari dikenal sebagai “ketemu” atau “berpapasan” secara kebetulan.”
“Sifat atau keadaan yang lucu dan menggemaskan sehingga menimbulkan rasa ingin mencubit atau memeluk; sinonim populer: “menggemaskan”, “imut”.”
“Kata kerja dalam ragam “Krama Inggil” bahasa Jawa yang berarti melihat atau menyaksikan sesuatu; setara dengan kata ndelok (Ngoko) atau ningali sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada lawan bicara yang lebih tua atau lebih dihormati.”
“Bentuk slang santai dari kata bisa, yang berarti mampu atau sanggup melakukan sesuatu; sering digunakan sebagai ungkapan persetujuan atau konfirmasi kemampuan, setara dengan kata “oke” atau “bisa” dalam percakapan sehari-hari.”
“Proses berpikir mendalam dan sistematis untuk mengevaluasi pengalaman, tindakan, atau pemikiran yang telah terjadi, dengan tujuan memperoleh pemahaman baru atau perbaikan di masa mendatang. Dalam konteks formal, “refleksi” merujuk pada kegiatan introspektif yang terstruktur, seperti dalam penulisan akademik, evaluasi profesional, atau pengembangan diri.”
“Rangkaian cerita, penjelasan, atau pernyataan yang disusun secara berurutan untuk menyampaikan suatu pesan atau sudut pandang tertentu. Dalam konteks informal, “narasi” sering merujuk pada cara seseorang membingkai sebuah isu, peristiwa, atau argumen agar terdengar meyakinkan dan sesuai kepentingan pihak tertentu.”
“Sudut pandang atau cara seseorang melihat dan memahami suatu situasi, masalah, atau fenomena berdasarkan latar belakang, pengalaman, dan penilaian pribadi. “Perspektif” mencerminkan kerangka berpikir yang membentuk interpretasi seseorang terhadap realitas, sehingga dua orang dapat memaknai kejadian yang sama secara berbeda.”
“Tempat penahanan resmi yang digunakan untuk mengurung individu yang telah terbukti atau diduga melakukan tindak pidana, sehingga kebebasan geraknya dibatasi oleh negara dalam jangka waktu tertentu sesuai putusan hukum. Istilah ini merupakan bentuk kosakata Jawa yang merujuk pada konsep “penjara” dalam sistem peradilan pidana.”
“Kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, memahami, dan menggunakan informasi secara efektif dalam berbagai konteks kehidupan. Dalam pengertian yang lebih luas, “literasi” mencakup tidak hanya kecakapan dasar membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, menganalisis teks, serta mengomunikasikan gagasan secara terstruktur.”
“Bentuk nomina turunan dalam bahasa Jawa ragam Krama Inggil, dibentuk dari kata dasar saged (mampu, bisa) dengan penambahan sufiks posesif -ipun (milik dia/nya); bermakna 'kemampuannya' atau 'kepandaiannya', merujuk pada kapasitas atau kecakapan seseorang yang diacu dalam konteks hormat.”
“Verba pasif dalam ragam ngoko bahasa Jawa yang berarti diantarkan atau dibawa ke suatu tempat oleh orang lain. Kata ini merupakan bentuk pasif dari kata kerja terne atau terke, yang merujuk pada tindakan mengantar seseorang atau sesuatu ke tujuan tertentu.”
“Bentuk ejaan lama dari kata mulai, yang berarti memulai atau mengawali suatu tindakan, kegiatan, atau keadaan. Kata ini menandai titik awal dari sebuah proses atau peristiwa, baik dalam konteks waktu, pekerjaan, maupun kondisi tertentu yang sedang berlangsung.”
“Ejaan lama dari kata “rumah”, merujuk pada bangunan atau tempat kediaman yang digunakan sebagai tempat tinggal, sesuai dengan sistem ejaan Van Ophuijsen yang berlaku pada era kolonial Hindia Belanda.”
“Istilah lama untuk “jerawat” atau “bintik” pada kulit, umum digunakan pada masa “tempo doeloe” untuk menggambarkan kondisi kulit beruntusan.”
“Sifat atau kondisi seseorang yang jarang atau sama sekali tidak mau bersosialisasi, menghabiskan sebagian besar waktu menyendiri, dan tidak memiliki kehidupan sosial yang aktif. Istilah “nolep” menggambarkan individu yang lebih memilih aktivitas soliter seperti bermain gim, menonton konten daring, atau berdiam diri di rumah dibandingkan berinteraksi dengan orang lain.”
“Kondisi air yang menggenang atau tergenang di suatu permukaan, biasanya setelah hujan turun. Kata ini merupakan bentuk verba aktif dalam ragam ngoko bahasa Jawa yang menggambarkan proses atau keadaan air yang tidak mengalir dan membentuk “genangan” di atas tanah atau permukaan datar.”
“Istilah slang yang merupakan penggabungan dari kata bokap (ayah) dan nyokap (ibu), digunakan untuk merujuk kepada kedua orang tua secara bersamaan.”
“Perasaan malu yang intens, sering kali bercampur dengan rasa segan atau gugup, terutama ketika berada di dekat seseorang yang dikagumi atau disukai. Kondisi ini ditandai dengan reaksi fisik seperti wajah memerah, sulit bicara, atau sikap canggung yang tidak bisa dikendalikan.”
“Merasa malu, segan, atau tidak enak hati karena khawatir akan terlihat merendahkan diri atau dianggap tidak punya harga diri oleh orang lain. Kata ini menggambarkan perasaan canggung yang muncul saat seseorang merasa tindakan atau situasinya dapat menurunkan “citra sosial” dirinya di mata lingkungan sekitar.”
“Ekspresi afirmatif informal yang digunakan untuk menyatakan persetujuan atau konfirmasi secara santai, setara dengan kata iya dalam ragam baku. Umumnya diucapkan dengan nada ringan dan tidak formal.”
“Sebutan santai dan tidak resmi untuk “pembantu rumah tangga”, yaitu seseorang yang dipekerjakan untuk mengerjakan pekerjaan domestik seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan mengurus keperluan sehari-hari di dalam rumah tangga orang lain.”
“Konjungsi dalam basa Jawa Krama yang berfungsi ganda: (1) menyatakan hubungan sebab-akibat, setara dengan “karena”; (2) menyatakan titik awal waktu, setara dengan “sejak”. Digunakan dalam ragam tulis sastra maupun tutur formal Jawa.”