Remen
“Kata yang menyatakan rasa “senang”, “suka”, atau “gemar” terhadap sesuatu atau seseorang. Dalam sistem bahasa Jawa, istilah ini dikategorikan sebagai bentuk “krama” yang menunjukkan rasa hormat.”
Eksplorasi kekayaan dialek Jawa: Ngoko, Kromo, hingga Ngapak Banyumasan. Menyuarakan keramahan tanah Jawa Tengah & Timur.
“Kata yang menyatakan rasa “senang”, “suka”, atau “gemar” terhadap sesuatu atau seseorang. Dalam sistem bahasa Jawa, istilah ini dikategorikan sebagai bentuk “krama” yang menunjukkan rasa hormat.”
“Kata “purun” merupakan bentuk “krama” dalam bahasa Jawa yang berarti bersedia, mau, atau berkenan melakukan sesuatu.”
“Kata keterangan yang menyatakan frekuensi atau jumlah kejadian yang berarti “sekali” atau “satu kali”.”
“Perasaan “sungkan”, canggung, atau tidak enak hati saat hendak melakukan sesuatu karena merasa tidak layak, tidak pantas, atau khawatir menyinggung perasaan orang lain; sinonim umum: ewuh, canggung.”
“Kata “negasi” yang digunakan dalam bahasa Jawa untuk menyangkal nomina, frasa nominal, atau predikat yang bersifat nominal.”
“Bentuk “puisi rakyat” khas Jawa yang terdiri dari dua bagian, yaitu sampiran dan isi, yang memiliki rima akhir serta sering digunakan sebagai sarana penyampaian pesan moral atau sindiran.”
“Butiran padi yang telah dipisahkan dari tangkainya, namun masih terbungkus oleh “sekam” atau kulit pelindung.”
“Singkatan dari frasa Jawa 'Siji tok' yang bermakna 'satu saja' atau 'hanya satu'. Digunakan untuk menyatakan kuantitas minimal atau penekanan pada kesederhanaan pilihan.”
“Kata kerja dalam bahasa Jawa yang berarti membeli, yaitu tindakan memperoleh barang atau jasa dengan memberikan sejumlah uang sebagai alat tukar. Kata ini termasuk dalam register “krama” sehingga digunakan dalam situasi yang memerlukan kesopanan atau penghormatan kepada lawan bicara.”
“Istilah Jawa yang berarti bersikap santai, tidak terburu-buru, atau melonggarkan ketegangan dalam menghadapi suatu situasi.”
“Kata dalam bahasa Jawa yang merujuk pada perempuan atau individu berjenis kelamin “wanita”; digunakan secara luas dalam ragam Ngoko maupun percakapan sehari-hari masyarakat Jawa.”
“Kata afirmatif dalam bahasa Jawa halus (Krama) yang digunakan sebagai respons untuk mengiyakan panggilan atau perintah, setara dengan “iya” atau “ya” dalam bahasa Indonesia. Diucapkan terutama kepada orang yang lebih tua, namun juga lazim digunakan antar teman sebaya dalam konteks sopan.”
“Wadah air atau bak penampungan air berukuran besar yang biasanya terbuat dari batu atau semen. Digunakan sebagai tempat penampungan air untuk keperluan “mandi” atau sarana “bersuci” di lingkungan masjid dan pesantren.”
“Kata umpatan atau makian kasar dalam bahasa Jawa yang digunakan untuk mengekspresikan kekesalan atau mengumpat seseorang”
“Bentuk “krama” (ragam halus) dalam bahasa Jawa untuk menyebut perempuan atau wanita, digunakan sebagai padanan sopan dari kata wadon dalam ragam ngoko.”
“Bagian tubuh yang berfungsi sebagai indra penglihatan milik seseorang atau sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya. Istilah ini merujuk pada “matanya” dalam konteks bahasa Jawa.”
“Ungkapan yang berarti “sedikit pun tidak”. Frasa ini berperan sebagai penegas dalam kalimat negatif untuk menyatakan ketiadaan atau penolakan dengan intensitas mutlak. Penggunaan “sethithik wae” menekankan bahwa tidak ada bagian sekecil apa pun dari suatu hal yang diakui atau dirasakan.”
“Kata depan yang berfungsi untuk menunjukkan “tujuan” atau arah pergerakan ke suatu tempat atau kepada seseorang.”
“Peringatan hari kelahiran dalam register bahasa Jawa “krama” (bahasa halus); setara dengan kata “ulang tahun” dalam bahasa Indonesia sehari-hari. Digunakan dalam konteks formal atau saat berbicara kepada orang yang lebih tua dan dihormati.”
“Istilah untuk lubang atau cekungan di permukaan tanah atau jalan yang disebabkan oleh erosi, kerusakan, atau faktor alam lainnya. Istilah ini sering kali merujuk pada kondisi jalan yang rusak dan berpotensi membahayakan.”
“Istilah dalam bahasa Jawa yang merujuk pada perayaan “Idul Fitri”, yaitu hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesainya bulan puasa Ramadan. Kata ini digunakan secara luas di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai padanan kosakata lokal untuk menyebut momen lebaran.”
“Kata kerja dalam ragam “Krama Inggil” atau “Krama Andhap” bahasa Jawa yang berarti meminjam sesuatu dari pihak lain, digunakan sebagai bentuk tutur halus dan penuh hormat dari kata nyilih atau silih dalam ragam Ngoko.”
“Sesuatu yang dirasakan secara batin atau hati; kepekaan emosional atau intuisi yang mendalam terhadap situasi atau perasaan orang lain, sering kali muncul tanpa kata-kata. Dalam konteks Jawa, merujuk pada perasaan yang tidak terucap namun terasa kuat dalam jiwa.”
“Bentuk dialek bahasa Jawa untuk menyebut “ketupat”, yaitu makanan tradisional berbahan beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda dan dimasak hingga padat. Pelafalan kupat lebih mudah diucapkan oleh penutur Jawa karena penyesuaian fonetis terhadap bunyi vokal.”