Andhap
“Andhap berarti rendah atau bawah dalam bahasa Jawa, digunakan untuk merujuk pada posisi fisik yang rendah maupun sikap merendahkan diri secara sosial dan kultural.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Andhap berarti rendah atau bawah dalam bahasa Jawa, digunakan untuk merujuk pada posisi fisik yang rendah maupun sikap merendahkan diri secara sosial dan kultural.”
“Kata afirmatif dalam bahasa Jawa ragam “krama” yang bermakna iya atau ya, digunakan sebagai bentuk persetujuan atau pengakuan yang sopan dan penuh hormat kepada lawan bicara yang berkedudukan lebih tinggi.”
“Menunjukkan posisi atau letak suatu benda yang berada pada ketinggian atau tempat yang lebih tegak dibandingkan titik referensi utama. Dalam konteks abstrak, istilah ini merujuk pada tingkatan, derajat, atau status sosial yang lebih mulia dan terhormat.”
“Bentuk dialek bahasa Jawa untuk menyebut “ketupat”, yaitu makanan tradisional berbahan beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda dan dimasak hingga padat. Pelafalan kupat lebih mudah diucapkan oleh penutur Jawa karena penyesuaian fonetis terhadap bunyi vokal.”
“Hidangan atau makanan ringan yang disajikan kepada tamu atau peserta setelah acara “pengajian” atau kegiatan keagamaan selesai, merupakan tradisi khas masyarakat Jawa Tengah sebagai bentuk ungkapan syukur dan keramahan tuan rumah.”
“Istilah dalam bahasa Jawa yang merujuk pada perayaan “Idul Fitri”, yaitu hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesainya bulan puasa Ramadan. Kata ini digunakan secara luas di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai padanan kosakata lokal untuk menyebut momen lebaran.”
“Pakaian atau busana yang dikenakan oleh seseorang, biasanya merujuk pada pakaian yang memiliki nilai estetika, budaya, atau status sosial tertentu dalam tradisi masyarakat Jawa.”
“Adjektiva slang yang menyatakan kualitas luar biasa. Hebat. Atau impresif. Merupakan bentuk penekanan intensif dari akar kata jos untuk menggambarkan sesuatu yang sangat memuaskan secara visual atau performa. Digunakan untuk menegaskan kekaguman yang bersifat spontan dan modern.”
“Kata keterangan penolakan atau negasi dalam tingkatan bahasa Krama yang berarti “tidak”. Kata ini berfungsi untuk menyangkal suatu pernyataan, keadaan, atau tindakan dengan nuansa santun dan hormat kepada lawan bicara. Merupakan bentuk formal dari kata ora dalam tatanan linguistik Jawa.”
“Kata ganti penunjuk atau pronomina demonstrativa dalam ragam krama yang merujuk pada benda, keadaan, atau hal yang berada di dekat pembicara. Berfungsi sebagai bentuk hormat untuk menggantikan kata iki dalam interaksi sosial formal demi menjaga kesantunan.”
“Interjeksi informal yang mengungkapkan kekecewaan, keheranan, atau ketidakpercayaan terhadap suatu perbuatan atau situasi. Digunakan untuk menegaskan bahwa sesuatu dianggap tidak masuk akal atau mengecewakan, setara dengan ungkapan “atas dasar apa” atau “kenapa bisa begitu”.”
“Kata tanya untuk menanyakan “cara”, “keadaan”, atau “pendapat” dalam tingkatan bahasa Jawa halus.”
“Satuan bunyi terkecil dalam sistem bahasa yang berfungsi untuk membedakan makna kata. Sebagai unit abstrak, fonem diwujudkan melalui pengucapan alofon yang variasinya tetap mempertahankan identitas semantik yang sama dalam suatu lingkungan fonologis tertentu.”
“Sifat yang menunjukkan kemudahan dalam menyesuaikan diri, kelenturan gerak, atau kehalusan budi pekerti yang tidak kaku.”
“Sebuah kata seru atau interjeksi vulgar yang digunakan untuk mengekspresikan kekesalan, kemarahan, atau keterkejutan yang mendalam. Merupakan variasi ejaan eufemisme dari term cok atau jancuk yang berfungsi sebagai makian kasar atau penekanan emosional dalam percakapan informal.”
“Dekonstruksi adalah metode analisis kritis yang bertujuan membongkar struktur mapan atau asumsi yang mendasari suatu teks atau pemikiran. Proses ini menyingkap kontradiksi internal dan makna tersembunyi guna menunjukkan bahwa suatu konstruksi tidak bersifat tunggal atau mutlak.”
“Nomina frasa. Bentuk ejaan Van Ophuijsen dari orang tuanya, merujuk pada orang tua atau kedua orang tua milik seseorang, yakni ayah dan ibu sebagai sosok yang melahirkan dan membesarkan. Unsur nja berfungsi sebagai penanda posesif “miliknya”.”
“Bercanda atau melucu, sering bernada ringan dan receh; kata kerja turunan dari banyol yang terbentuk dengan prefiks m-, umum dalam ragam “ngoko” Jawa.”
“Penghubung kontrastif yang menyatakan pengecualian atau koreksi terhadap klausa sebelumnya; bentuk ejaan lama Van Ophuijsen dari kata baku “melainkan”.”
“Seorang individu yang menelaah atau menafsirkan tulisan dalam teks literatur dan media massa. Istilah ini merujuk pada khalayak sasaran dari sebuah narasi atau berita dalam konteks perkembangan bahasa Indonesia awal yang menggunakan ortografi sistem Van Ophuijsen atau ejaan lama.”
“Istilah yang digunakan dalam dunia gaming untuk menggambarkan kondisi saat koneksi internet atau server game mengalami penurunan kualitas, sehingga menyebabkan permainan menjadi lambat atau tersendat-sendat.”
“Ejaan lama dari kata 'huruf'; simbol atau karakter tertulis yang merepresentasikan bunyi bahasa dan digunakan sebagai satuan dasar tulisan.”
“Menunjukkan kesepakatan, keselarasan, atau persetujuan terhadap suatu usulan atau pendapat. Kata ini menggambarkan keadaan pikiran yang seiring atau sependapat dengan orang lain dalam sebuah keputusan. Digunakan untuk menegaskan bahwa seseorang berada dalam posisi yang sama mengenai suatu perkara.”
“Kata kerja aktif yang berarti mengeluarkan bayi dari dalam kandungan ke dunia. Dalam konteks tempo doeloe, istilah ini merujuk pada proses persalinan atau tindakan melahirkan seorang anak. Kata ini merupakan varian ejaan lama dari bentuk modern melahirkan.”