Wedi
“Kondisi psikologis berupa perasaan “takut” atau khawatir terhadap sesuatu yang dianggap membahayakan atau tidak menyenangkan.”
Eksplorasi kekayaan dialek Jawa: Ngoko, Kromo, hingga Ngapak Banyumasan. Menyuarakan keramahan tanah Jawa Tengah & Timur.
“Kondisi psikologis berupa perasaan “takut” atau khawatir terhadap sesuatu yang dianggap membahayakan atau tidak menyenangkan.”
“Kejlungup adalah jatuh ke depan dengan posisi tubuh tidak terkontrol, biasanya secara tiba-tiba atau tidak sengaja.”
“Kata dalam bahasa Jawa yang berarti mendorong atau menyodorkan sesuatu dengan lembut atau perlahan. Bisa juga memiliki maksud menggesekan anggota badan ke orang lain.”
“Kata yang merujuk pada makhluk halus atau roh penunggu yang dianggap menghuni tempat tertentu, khususnya dalam tradisi kepercayaan Jawa; sering kali digunakan secara kiasan untuk menyebut sesuatu yang misterius atau menakutkan yang tidak terlihat tetapi dirasakan keberadaannya.”
“Sebuah kata seru atau interjeksi vulgar yang digunakan untuk mengekspresikan kekesalan, kemarahan, atau keterkejutan yang mendalam. Merupakan variasi ejaan eufemisme dari term cok atau jancuk yang berfungsi sebagai makian kasar atau penekanan emosional dalam percakapan informal.”
“Kata keterangan posisi atau arah yang merujuk pada sisi tubuh yang berlawanan dengan kanan. Dalam tingkatan bahasa Ngoko, istilah ini digunakan untuk menunjukkan letak geografis, orientasi spasial, atau bagian tubuh manusia yang berada di sebelah kiri. Dibaca “Kiwo”.”
“Kata benda dalam ragam Krama bahasa Jawa yang merujuk pada “alat” atau “peralatan”; yaitu benda yang digunakan sebagai sarana atau instrumen untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau kegiatan tertentu. Merupakan padanan halus dari bentuk Ngoko piranti.”
“Bondho merujuk pada modal, harta, atau bekal. Kata ini sering digunakan dalam konteks kekayaan material atau sumber daya yang dimiliki.”
“Konjungsi koordinatif dalam bahasa Jawa yang bermakna "dan" atau "juga", digunakan untuk menghubungkan dua klausa atau frasa yang menunjukkan penambahan informasi atau peristiwa yang terjadi secara bersamaan maupun berurutan.”
“Kata sifat yang berarti “kecil” dalam ukuran, dimensi, atau jumlah. Merupakan bentuk informal atau kolokial dari kata baku “kecil” yang umum digunakan dalam bahasa Jawa dan konteks percakapan sehari-hari.”
“Sebuah konjungsi subordinatif dalam bahasa Jawa yang berfungsi untuk menyatakan alasan atau penyebab suatu peristiwa. Kata ini merupakan bentuk krama yang digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara, setara dengan kata “karena” atau “sebab” dalam bahasa Indonesia.”
“Satuan bahasa terkecil yang bermakna dalam tradisi linguistik Jawa; setara dengan “kata” dalam Bahasa Indonesia. Digunakan untuk merujuk pada unit ujaran atau tulisan yang memiliki arti tersendiri, baik dalam ragam ngoko maupun krama.”
“Konjungsi dalam bahasa Jawa Krama yang menyatakan urutan tindakan atau peristiwa; bermakna berurutan dan setara dengan “kemudian” atau “lalu” dalam bahasa Indonesia formal. Digunakan untuk menghubungkan dua klausa atau kalimat yang menunjukkan kejadian yang terjadi secara berurutan.”
“Kemampuan atau kerelaan seseorang untuk “menelan” atau mengonsumsi makanan dan minuman yang biasanya dipengaruhi oleh kondisi fisik atau suasana hati.”
“Pesan moral, arahan, atau bimbingan hidup yang disampaikan oleh orang yang lebih tua atau bijaksana kepada pihak lain guna memberikan “pencerahan” perilaku.”
“Kata sifat dalam bahasa Jawa Ngoko yang berarti hitam, yaitu warna gelap menyerupai warna arang, jelaga, atau kegelapan malam. Digunakan untuk mendeskripsikan warna objek, kulit, rambut, atau benda apapun yang memiliki pigmen paling gelap dalam spektrum warna.”
“Dalam Bahasa Jawa (terutama dialek Jawa Timuran), nggapleki berarti mencela, menghina, atau merendahkan orang lain dengan kata-kata pedas. Biasanya bernuansa mengejek atau mempermalukan.”
“Melakukan gerakan bibir yang ditarik ke samping tanpa mengeluarkan suara sebagai ekspresi rasa senang, kasih sayang, atau keramahtamahan. Kata ini merupakan bentuk “informal” atau dialek dari kata “tersenyum”.”
“Nama diri dalam tradisi Jawa yang bermakna "pertanda" atau "isyarat", berasal dari akar kata sasmita dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna yang merujuk pada tanda, sinyal, atau petunjuk halus yang mengandung makna tersembunyi.”
“Kata kerja dalam bahasa Jawa krama inggil yang berarti 'silakan duduk' atau 'silakan mampir', sering digunakan untuk mengundang seseorang ke tempat pembicara.”
“Bentuk pasif dari kata kerja mbengok dalam dialek Jawa, yang berarti menjadi sasaran teriakan atau diperlakukan dengan cara dibentak oleh seseorang dari jarak tertentu maupun secara langsung. Kata ini digunakan dalam konteks informal sehari-hari untuk menggambarkan kondisi seseorang yang “diteriaki” atau “dibentak” oleh pihak lain.”
“Bentuk “Krama Inggil” dari kata wong (orang) dalam bahasa Jawa; merujuk pada seseorang, khususnya dari kalangan terpelajar, bangsawan, atau orang yang dihormati. Setara dengan kata 'orang' atau 'seseorang' dalam bahasa Indonesia, namun mengandung nilai kesopanan dan penghormatan yang tinggi.”
“Adverbia penunjuk dalam bahasa Jawa ngoko yang merujuk pada suatu cara, keadaan, atau perilaku yang spesifik. Kata ini berfungsi untuk menunjukkan keseragaman atau kesamaan dengan hal yang telah disebutkan atau dipahami sebelumnya dalam percakapan informal dengan makna “begitu” atau “demikian”.”
“Kata keterangan dalam dialek Jawa yang bermakna hanya atau “saja”, digunakan untuk membatasi atau menyederhanakan suatu pernyataan.”