Sosiolinguistik
“Cabang ilmu linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat, mencakup analisis variasi bahasa, penggunaan bahasa dalam konteks sosial, serta dampaknya terhadap identitas dan interaksi sosial.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Cabang ilmu linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat, mencakup analisis variasi bahasa, penggunaan bahasa dalam konteks sosial, serta dampaknya terhadap identitas dan interaksi sosial.”
“Wingking adalah istilah yang merujuk pada bagian “belakang” suatu objek, lokasi, atau posisi. Kata ini menggambarkan area yang berada di sisi “balik” atau “punggung” dari sesuatu yang menjadi titik acuan, seringkali tanpa terlihat langsung dari pandangan depan.”
“Kata “inggil” dalam konteks bahasa Jawa merujuk pada tingkat tertinggi dalam sistem kesopanan bahasa Jawa, yang disebut “krama inggil”, digunakan untuk menunjukkan penghormatan yang sangat tinggi kepada lawan bicara atau orang yang dibicarakan.”
“Kelompok sosial yang terdiri dari kaum pekerja atau buruh industri yang tidak memiliki alat produksi dan bergantung sepenuhnya pada upah sebagai sumber penghidupan; sering dikontraskan dengan kelompok “borjuis” atau kelas pemilik modal.”
“Sikap atau kondisi yang tidak terlibat dan tidak berpihak dalam urusan politik; bersifat netral terhadap segala bentuk kegiatan atau ideologi politik.”
“Karangan, tulisan, atau hasil cipta seseorang; berasal dari tradisi sastra Jawa dan merujuk pada sebuah karya tulis yang disusun atau dikarang, setara dengan kata umum “karangan” atau “tulisan” dalam bahasa Indonesia sehari-hari.”
“Verba dalam ragam bahasa Jawa Ngoko yang berarti kembali ke tempat asal, rumah, atau titik keberangkatan sebelumnya. Kata ini merupakan padanan informal dari kata “pulang” dalam bahasa Indonesia standar.”
“Wilayah atau daerah lain yang berada di luar lingkungan Surakarta (Solo) sebagai pusat kebudayaan Jawa; merujuk pada tanah perantauan atau negeri asing yang jauh dari pusat peradaban Jawa. Sinonim umum: “luar daerah”, “tanah rantau”.”
“Berada dalam keadaan bernyawa dan menjalankan fungsi kehidupan. Kata ini merupakan penulisan hidup dalam “Ejaan Van Ophuijsen” yang berlaku sebelum tahun 1947, di mana huruf 'u' ditulis sebagai 'oe'.”
“Bentuk informal dan dialektal dari kata bisanya dalam bahasa Jawa-Indonesia, yang merujuk pada kemampuan atau hal yang lazim dilakukan oleh seseorang, sering kali dengan nuansa keterbatasan atau sindiran bahwa seseorang hanya mampu melakukan hal tertentu saja.”
“Kata sifat informal yang berarti luar biasa, hebat, atau mengesankan dalam tingkat yang tinggi. Digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu yang melampaui ekspektasi biasa, baik dari segi kualitas, penampilan, maupun performa. Kata ini membawa konotasi positif yang kuat dan penuh kekaguman.”
“Panggilan akrab yang ditujukan kepada “teman dekat” atau sahabat; sering digunakan sebagai sapaan hangat, terutama dalam konteks media sosial dan percakapan digital.”
“Kata seru “Gaskeun” merupakan bentuk “ajakan” atau “perintah” untuk segera melakukan suatu tindakan, melanjutkan aktivitas, atau bergerak cepat.”
“Pernyataan atau pendapat yang dianggap “tidak terbantahkan” dan “mutlak benar”, sehingga tidak perlu atau tidak mungkin untuk diperdebatkan lebih lanjut.”
“Tidak memiliki “faedah” atau manfaat, sering digunakan untuk menyatakan sesuatu yang “tidak berguna” atau membuang-buang waktu dan tenaga. Kata ini merujuk pada kondisi atau aktivitas yang tidak memberikan dampak positif, hasil yang berarti, maupun keuntungan yang dapat dirasakan.”
“Kata seru (interjeksi) dalam bahasa gaul yang digunakan untuk mengekspresikan kekaguman atau penilaian bahwa sesuatu sangat “keren”, mengesankan, atau luar biasa.”
“Menggambarkan kondisi atau tindakan yang terjadi lebih awal dari waktu yang telah ditentukan, dijadwalkan, atau diperkirakan sebelumnya. Kata ini merupakan bentuk informal dari “lebih awal” dalam ragam bahasa Jawa sehari-hari.”
“Verba dalam bahasa Jawa Ngoko yang merujuk pada proses “melahirkan”, yaitu tindakan mengeluarkan bayi dari kandungan seorang ibu. Kata ini digunakan dalam percakapan sehari-hari di lingkungan masyarakat Jawa dengan nuansa akrab dan informal.”
“Sistem pemerintahan di mana “kekuasaan mutlak” terpusat pada satu individu tanpa mekanisme pembatasan atau pengawasan dari pihak lain. (Sinonim: diktator, tiran, otokrat)”
“Bentuk ejaan lama dari kata sebabnya, merujuk pada alasan, penyebab, atau pangkal dari suatu kejadian atau keadaan, yang ditulis menggunakan kaidah “Ejaan Van Ophuijsen” dengan penambahan akhiran posesif ketiga tunggal '-nja' sebagai pengganti '-nya'.”
“Kata bilangan dalam ragam “krama” bahasa Jawa yang bermakna tiga, digunakan sebagai bentuk halus dari kata telu dalam register ngoko.”
“Bilangan pokok dalam bahasa Jawa yang bermakna empat, digunakan dalam ragam ngoko maupun krama sebagai padanan numeralia “empat” dalam bahasa Indonesia standar.”
“Bilangan asli yang bernilai lima dalam sistem numerasi bahasa Jawa, digunakan dalam konteks percakapan sehari-hari maupun tradisi budaya Jawa.”
“Kata dalam dialek Jawa yang bermakna dua atau merujuk pada kondisi bersama, seiring, dan berpasangan dalam satu kesatuan tindakan atau keberadaan.”