Djerawat
“Istilah lama untuk “jerawat” atau “bintik” pada kulit, umum digunakan pada masa “tempo doeloe” untuk menggambarkan kondisi kulit beruntusan.”
Pusat rujukan utama bahasa gaul, kultur internet, dan dialek daerah. Temukan ragam kata yang mendefinisikan identitas Indonesia hari ini.
Menampilkan 24 entri
“Istilah lama untuk “jerawat” atau “bintik” pada kulit, umum digunakan pada masa “tempo doeloe” untuk menggambarkan kondisi kulit beruntusan.”
“Sifat atau kondisi seseorang yang jarang atau sama sekali tidak mau bersosialisasi, menghabiskan sebagian besar waktu menyendiri, dan tidak memiliki kehidupan sosial yang aktif. Istilah “nolep” menggambarkan individu yang lebih memilih aktivitas soliter seperti bermain gim, menonton konten daring, atau berdiam diri di rumah dibandingkan berinteraksi dengan orang lain.”
“Kondisi air yang menggenang atau tergenang di suatu permukaan, biasanya setelah hujan turun. Kata ini merupakan bentuk verba aktif dalam ragam ngoko bahasa Jawa yang menggambarkan proses atau keadaan air yang tidak mengalir dan membentuk “genangan” di atas tanah atau permukaan datar.”
“Istilah slang yang merupakan penggabungan dari kata bokap (ayah) dan nyokap (ibu), digunakan untuk merujuk kepada kedua orang tua secara bersamaan.”
“Perasaan malu yang intens, sering kali bercampur dengan rasa segan atau gugup, terutama ketika berada di dekat seseorang yang dikagumi atau disukai. Kondisi ini ditandai dengan reaksi fisik seperti wajah memerah, sulit bicara, atau sikap canggung yang tidak bisa dikendalikan.”
“Merasa malu, segan, atau tidak enak hati karena khawatir akan terlihat merendahkan diri atau dianggap tidak punya harga diri oleh orang lain. Kata ini menggambarkan perasaan canggung yang muncul saat seseorang merasa tindakan atau situasinya dapat menurunkan “citra sosial” dirinya di mata lingkungan sekitar.”
“Ekspresi afirmatif informal yang digunakan untuk menyatakan persetujuan atau konfirmasi secara santai, setara dengan kata iya dalam ragam baku. Umumnya diucapkan dengan nada ringan dan tidak formal.”
“Sebutan santai dan tidak resmi untuk “pembantu rumah tangga”, yaitu seseorang yang dipekerjakan untuk mengerjakan pekerjaan domestik seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan mengurus keperluan sehari-hari di dalam rumah tangga orang lain.”
“Konjungsi dalam basa Jawa Krama yang berfungsi ganda: (1) menyatakan hubungan sebab-akibat, setara dengan “karena”; (2) menyatakan titik awal waktu, setara dengan “sejak”. Digunakan dalam ragam tulis sastra maupun tutur formal Jawa.”
“Kata ganti orang kedua tunggal yang digunakan untuk menyapa atau merujuk kepada lawan bicara secara langsung, setara dengan “kamu” dalam ragam bahasa formal. Kata ini bersifat netral hingga akrab, dan lazim digunakan dalam percakapan santai antara teman sebaya atau orang yang sudah saling mengenal.”
“Sikap pura-pura tenang dan tidak peduli ketika seseorang sebenarnya sedang panik, gugup, atau tertekan dalam suatu situasi. Kata ini menggambarkan ekspresi wajah atau tingkah laku yang dibuat-buat seolah segalanya baik-baik saja, padahal kondisi batin sebaliknya. Sering digunakan untuk menyindir atau menggambarkan reaksi seseorang secara humoris.”
“Kata ganti orang kedua dalam dialek Jawa Timuran (Suroboyoan), yang berarti kamu atau kalian, digunakan dalam ragam ngoko yang bersifat akrab atau setara secara sosial.”
“Memiliki arti penting atau “bermakna”. Mengindikasikan adanya dampak yang besar atau relevansi yang kuat terhadap suatu “situasi” atau “fenomena”. Sesuatu yang “signifikan” menunjukkan “keberadaan pentingnya” yang tidak dapat diabaikan atau diremehkan dalam “konteks” tertentu.”
“Paradigma adalah suatu kerangka atau “cara pandang” yang membentuk “model pemikiran” seseorang atau “komunitas” dalam memahami dan menghadapi dunia, seringkali mencakup teori, kepercayaan, dan metodologi yang saling terkait untuk menjelaskan fenomena yang ada.”
“Situasi atau latar belakang “informasi” yang melingkupi suatu peristiwa, pernyataan, atau “makna” tertentu, sehingga membantu pemahaman yang lebih akurat dan lengkap terhadap hal tersebut.”
“Integritas adalah sebuah “kualitas” atau keadaan yang menunjukkan kesatuan utuh tanpa cela. Ini mencakup keseluruhan dan konsistensi “nilai moral” dan etika yang kuat.”
“Kondisi psikologis berupa rasa cemas atau khawatir yang berlebihan dan tidak proporsional terhadap suatu situasi, seringkali tanpa dasar yang kuat atau rasional. Kata ini digunakan dalam konteks pergaulan untuk menggambarkan seseorang yang mudah merasa terancam, curiga, atau gelisah secara berlebihan.”
“Kata gaul yang merupakan kependekan dari negative thinking, merujuk pada sikap atau perilaku pesimistis yang cenderung meragukan, memperburuk, atau melihat sisi negatif dari suatu situasi, orang, atau kejadian.”
“Proses “penyesuaian diri” terhadap kondisi lingkungan baru atau perubahan yang terjadi pada organisme, kelompok, atau sistem, untuk mempertahankan keberlangsungan hidup atau fungsinya. Ini melibatkan modifikasi perilaku atau struktur agar dapat berinteraksi secara efektif dengan “lingkungan” yang berubah.”
“Hakikat atau “inti” dari sesuatu yang membuatnya unik dan membedakannya dari hal lain, seringkali merujuk pada bagian terpenting atau pokok yang melandasi keberadaan atau sifatnya yang sesungguhnya.”
“Ejaan lama dari kata bangun, merujuk pada tindakan bangkit dari posisi tidur atau duduk atau beralih dari kondisi tidak aktif menuju kondisi aktif.”
“Bentuk ejaan lama dari kata “pengajar”, merujuk kepada seseorang yang berprofesi mengajar atau mendidik, sinonim dengan guru atau pendidik, yang bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya.”
“Bentuk pasif krama inggil dalam bahasa Jawa yang berarti “diceritakan” atau “dikisahkan”; lazim digunakan sebagai formula pembuka narasi dalam teks sastra Jawa klasik, serat, dan babad.”
“Kata kerja informal yang merupakan variasi slang dari kata makan, digunakan sebagai ajakan atau ekspresi makan dalam konteks pergaulan anak muda yang santai dan akrab.”