ibahasa - Living Dictionary

Living Dictionary untuk bahasa gaul, dialek, dan konteks budaya Indonesia. Dikurasi oleh manusia, didukung teknologi.

Platform

  • Trending
  • Leaderboard
  • Kata Acak
  • Contribute
  • Browse A-Z

Legal

  • Tentang Kami
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami
© 2026 ibahasa. Hak cipta dilindungi.
Switch to English
Twitter (X)
ibahasa - Living Dictionary
EN
Jelajahi ibahasa
  • Jelajahi Kata
  • Jelajahi A-Z
  • Kontribusi
  • Klasemen Perkembangan
Koleksi Topik
  • Bahasa JakselMengulas kamus bahasa anak Jak...
  • Slang & GaulKumpulan kosakata gaul sehari-...
  • Tech & StartupGlosarium lengkap istilah star...
  • Gaming & EsportsKamus bahasa gamer sejati. Dar...
  • Internet CultureEnsiklopedia budaya internet I...
  • Bahasa JawaEksplorasi kekayaan dialek Jaw...
  • Bahasa SundaKumaha damang? Menyelami manis...
  • Bahasa BatakHoras! Pelajari ketegasan dan ...
  • Bahasa BetawiBahasa asli ibu kota. Dari 'gu...
  • Baku (Formal)Koleksi kata baku dan resmi Ba...
  • PeribahasaRagam peribahasa dan ungkapan ...
  • General / UmumKumpulan kosakata umum Bahasa ...
  • Budaya / LokalGlosarium istilah budaya, adat...
  • Bahasa Tempo DoeloeBahasa Klasik
  1. Topik
  2. Bahasa Tempo Doeloe
Koleksi Terverifikasi

Bahasa Tempo Doeloe

Mesin waktu ke era kolonial dan awal kemerdekaan. Mengarsip evolusi ejaan lawas Van Ophuijsen hingga Ejaan Soewandi (Republik), serta ragam istilah klasik pra-EYD.

109 kata•Diperbarui berkala

Teroesken

“Melanjutkan atau meneruskan suatu tindakan, proses, atau pembicaraan yang sedang berlangsung atau yang sempat terhenti. Kata ini mengindikasikan kelanjutan dari suatu aktivitas atau tugas dari titik di mana ia berhenti atau belum diselesaikan. Dapat juga berarti “melaksanakan instruksi” atau rencana yang telah ada.”

1 arti

Bageimana

“Bagaimana; bentuk tanya yang menanyakan keadaan, cara, atau kondisi sesuatu dalam bahasa Melayu tempo dulu.”

1 arti

Akoe

“Kata ganti orang pertama tunggal 'saya' atau 'aku' dalam ejaan lama Van Ophuijsen”

1 arti

Misti

““Misti” (Van Ophuijsen) berarti harus, mesti, wajib, atau perlu melakukan sesuatu, mengindikasikan suatu keharusan atau kewajiban. Kata ini menunjukkan bahwa suatu tindakan tidak dapat dihindari atau merupakan persyaratan mutlak.”

1 arti

Setjertjah

“Sedikit cahaya atau harapan yang kecil; secuil atau seberkas yang tipis dan hampir tidak terlihat.”

1 arti

Ketjil

“Berukuran atau berdimensi kecil; tidak besar dalam hal ukuran, jumlah, maupun cakupan wilayah. Merupakan ejaan lama kata “kecil” yang digunakan dalam sistem ejaan Van Ophuijsen sebelum pembaruan ejaan resmi. (Sinonim Modern: kecil)”

1 arti

Batja

“Verba yang merujuk pada aktivitas memahami isi tulisan dengan melihat dan mengenali lambang-lambang bunyi. Kata ini merupakan bentuk arkais yang bermakna “melisankan” atau “mencerna” teks tertulis. Istilah ini adalah varian ortografis dari kata modern baca.”

1 arti

Taoenan

“Kata sifat atau keterangan yang merujuk pada sesuatu yang terjadi, dilaksanakan, atau diperingati setiap tahun secara berulang. Ditulis dalam “Ejaan Van Ophuijsen” sebagai bentuk historis dari kata modern tahunan. (Sinonim Modern: tahunan)”

1 arti

Maoe

“Bentuk arkais dari kata mau, bermakna ingin, hendak, atau berkeinginan untuk melakukan sesuatu. Digunakan sebagai verba modalitas yang menyatakan kehendak atau niat subjek terhadap suatu tindakan. Ejaan “maoe” merupakan representasi ortografis resmi bunyi 'u' dalam sistem ejaan lama.”

1 arti

Dalem

“Bentuk informal atau dialektal dari kata dalam, merujuk pada bagian interior atau sisi yang berada di sebelah dalam suatu ruang, benda, atau tempat.”

1 arti

Mantoe

“Suami atau istri dari anak sendiri. Bentuk kolokial dan tidak baku dari “menantu”, sering direalisasikan sebagai mantu dan dalam ejaan tempoe doeloe ditulis sebagai “mantoe”.”

1 arti

Boeka

“Bentuk penulisan kata buka dalam “Ejaan Van Ophuijsen” yang digunakan pada masa kolonial dan awal kemerdekaan Indonesia. Merujuk pada tindakan menjadikan sesuatu tidak tertutup lagi, baik secara harfiah maupun kiasan, seperti membuka pintu, membuka rahasia, atau memulai suatu kegiatan.”

1 arti

Repoeblik

“Bentuk ejaan lama untuk kata republik, merujuk pada sistem pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi dipegang oleh rakyat dan dijalankan melalui wakil-wakil yang dipilih. Konsep ini mencakup negara yang tidak dipimpin oleh raja atau kaisar, melainkan oleh pemimpin yang bertanggung jawab kepada warga negara.”

1 arti

Tjonto

“Sebuah model atau pola yang dijadikan acuan untuk ditiru atau diikuti. Kata ini berfungsi sebagai teladan atau sampel yang menunjukkan rupa atau sifat asli dari sesuatu dalam perbandingan. Turunan dari kata dasar contoh dalam ejaan lama.”

1 arti

Bininja

“Nomina. Bentuk ejaan arkais dari bininya yang merujuk pada istri atau pasangan hidup perempuan yang sah dari orang ketiga. Kata ini menggunakan sufiks ganti milik untuk menyatakan hubungan perkawinan dalam konteks bahasa Melayu klasik atau literatur era kolonial.”

1 arti

Minoem

“Kata kerja untuk menelan cairan atau minuman ke dalam mulut dan kerongkongan”

1 arti

Lahirken

“Kata kerja aktif yang berarti mengeluarkan bayi dari dalam kandungan ke dunia. Dalam konteks tempo doeloe, istilah ini merujuk pada proses persalinan atau tindakan melahirkan seorang anak. Kata ini merupakan varian ejaan lama dari bentuk modern melahirkan.”

1 arti

Pekerdja

“Pekerja; orang yang melakukan pekerjaan atau bekerja untuk majikan, terutama di masa kolonial Hindia Belanda.”

1 arti

Berlariken

“Bentuk arkais dari kata kerja melarikan, yang berarti membawa diri pergi secara diam-diam atau tergesa-gesa dari suatu tempat tanpa pemberitahuan, sering kali karena rasa takut, malu, atau menghindari konsekuensi tertentu. Kata ini ditulis dalam “Ejaan Van Ophuijsen” yang berlaku sebelum tahun 1947.”

1 arti

Soeka

“Soeka adalah bentuk archaik dari 'suka' dalam bahasa Melayu klasik, berarti menyukai, senang, atau berkenan dengan sesuatu. Sering digunakan dalam konteks kesukaan pribadi atau persetujuan.”

1 arti

Waktoe

“Ejaan lama dari kata waktu, merujuk pada saat, momen, atau masa tertentu dalam konteks temporal; Digunakan dalam teks-teks berbahasa Melayu dan Indonesia era kolonial sesuai kaidah ejaan Van Ophuijsen.”

1 arti

Poenja

“Bentuk ejaan lama dari kata punya, bermakna memiliki atau menunjukkan kepemilikan atas sesuatu; digunakan dalam teks-teks berbahasa Melayu pada era kolonial Belanda.”

1 arti

Djangan

“Kata larangan yang digunakan untuk melarang atau mencegah suatu tindakan, setara dengan “jangan” dalam ejaan modern. Merupakan penulisan djangan berdasarkan sistem Ejaan Van Ophuijsen yang berlaku di Hindia Belanda sebelum tahun 1947.”

1 arti

Perdjalan

“Bentuk ejaan lama dari kata perjalanan, merujuk pada proses atau perihal seseorang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan. Kata ini ditulis menggunakan kaidah “Ejaan Van Ophuijsen” yang berlaku sebelum tahun 1947.”

1 arti
  • 1
  • 2
  • 3
  • 5