Taoenan
“Kata sifat atau keterangan yang merujuk pada sesuatu yang terjadi, dilaksanakan, atau diperingati setiap tahun secara berulang. Ditulis dalam “Ejaan Van Ophuijsen” sebagai bentuk historis dari kata modern tahunan. (Sinonim Modern: tahunan)”
Mesin waktu ke era kolonial dan awal kemerdekaan. Mengarsip evolusi ejaan lawas Van Ophuijsen hingga Ejaan Soewandi (Republik), serta ragam istilah klasik pra-EYD.
“Kata sifat atau keterangan yang merujuk pada sesuatu yang terjadi, dilaksanakan, atau diperingati setiap tahun secara berulang. Ditulis dalam “Ejaan Van Ophuijsen” sebagai bentuk historis dari kata modern tahunan. (Sinonim Modern: tahunan)”
“Soeka adalah bentuk archaik dari 'suka' dalam bahasa Melayu klasik, berarti menyukai, senang, atau berkenan dengan sesuatu. Sering digunakan dalam konteks kesukaan pribadi atau persetujuan.”
“Ejaan lama dari kata waktu, merujuk pada saat, momen, atau masa tertentu dalam konteks temporal; Digunakan dalam teks-teks berbahasa Melayu dan Indonesia era kolonial sesuai kaidah ejaan Van Ophuijsen.”
“Bentuk ejaan lama dari kata punya, bermakna memiliki atau menunjukkan kepemilikan atas sesuatu; digunakan dalam teks-teks berbahasa Melayu pada era kolonial Belanda.”
“Ejaan lama dari kata 'huruf'; simbol atau karakter tertulis yang merepresentasikan bunyi bahasa dan digunakan sebagai satuan dasar tulisan.”
“Kata larangan yang digunakan untuk melarang atau mencegah suatu tindakan, setara dengan “jangan” dalam ejaan modern. Merupakan penulisan djangan berdasarkan sistem Ejaan Van Ophuijsen yang berlaku di Hindia Belanda sebelum tahun 1947.”
“Narasi, kisah, atau rangkaian peristiwa yang disampaikan secara lisan maupun tulisan; bentuk ejaan lama dari kata cerita sesuai kaidah Ejaan Van Ophuijsen yang menggunakan digraf “tj” untuk merepresentasikan bunyi /c/. (Sinonim Modern: cerita)”
“Bentuk arkais dari kata mau, bermakna ingin, hendak, atau berkeinginan untuk melakukan sesuatu. Digunakan sebagai verba modalitas yang menyatakan kehendak atau niat subjek terhadap suatu tindakan. Ejaan “maoe” merupakan representasi ortografis resmi bunyi 'u' dalam sistem ejaan lama.”
“Kata keterangan waktu yang menyatakan bahwa suatu perbuatan atau peristiwa telah “selesai” atau terjadi di masa lampau.”
“Menyatakan keterangan waktu bahwa suatu perbuatan atau keadaan “tidak atau belum terjadi” hingga saat dibicarakan. Kata ini berfungsi sebagai bentuk variasi fonologis atau ejaan lama dari kata keterangan aspek “belum”.”
“Kata keterangan yang bermakna “hanya” atau “semata-mata”. Digunakan untuk membatasi atau menekankan suatu hal. (Sinonim Modern: saja)”
“Konjungsi yang digunakan untuk menyatakan syarat, pengandaian, atau kondisi tertentu yang harus dipenuhi agar suatu peristiwa atau keadaan dapat terjadi. Kata ini merupakan penulisan kalau dalam “Ejaan Van Ophuijsen” yang berlaku sebelum tahun 1947.”
“Ejaan lama dari kata betul, bermakna benar, sesuai dengan kenyataan, atau sungguh-sungguh. Digunakan dalam konteks penulisan era kolonial Belanda mengikuti sistem ejaan Van Ophuijsen.”
“Sampoerna adalah istilah tempo doeloe jang menandakan kesempurnaan atau kelengkapan total. Digunakan untuk memuji sesuatu dengan sangat tinggi, mengekspresikan bahwa sesuatu itu sempurna, lengkap, dan tak ada kekurangan. Istilah ini umum dalam dokumen resmi dan korespondensi Hindia Belanda awal abad ke-20.”
“Bentuk ejaan lama dari kata mulai, yang berarti memulai atau mengawali suatu tindakan, kegiatan, atau keadaan. Kata ini menandai titik awal dari sebuah proses atau peristiwa, baik dalam konteks waktu, pekerjaan, maupun kondisi tertentu yang sedang berlangsung.”
“Kata ganti orang pertama tunggal dalam ragam bahasa Melayu arkais dan ejaan lama, bermakna “saya” atau “aku”; digunakan sebagai subjek maupun objek dalam kalimat.”
“Penghubung kontrastif yang menyatakan pengecualian atau koreksi terhadap klausa sebelumnya; bentuk ejaan lama Van Ophuijsen dari kata baku “melainkan”.”
“Jang/djang adalah variasi ortografi historis dari 'yang' (pronomina relatif) yang digunakan dalam sistem penulisan Hindia Belanda (terutama ejaan van Ophuijsen, abad ke-19 hingga awal abad ke-20)..”
“Istilah lama untuk “jerawat” atau “bintik” pada kulit, umum digunakan pada masa “tempo doeloe” untuk menggambarkan kondisi kulit beruntusan.”
“Melompat atau meluncur ke bawah dengan cepat, terutama masuk ke dalam air atau dari ketinggian. Dalam konteks kiasan, kata ini berarti menceburkan diri atau melibatkan diri secara aktif ke dalam suatu situasi, kegiatan, atau bidang tertentu.”
“Ejaan lama dari kata jauh, merujuk pada kondisi atau keadaan yang memiliki jarak panjang antara dua titik atau tempat; tidak berdekatan secara fisik maupun metaforis.”
“Djadi adalah ejaan lama dari kata 'jadi', yang berfungsi sebagai penanda konsekuensi, perubahan status, atau permulaan suatu tindakan. Kata ini dapat berarti 'kemudian', 'menjadi', atau 'maka'.”
“Ejaan lama dari kata “minggu”, merujuk pada satuan waktu tujuh hari atau hari ketujuh dalam sepekan, sesuai dengan sistem ejaan Van Ophuijsen yang berlaku pada era kolonial Hindia Belanda.”
“Bentuk ejaan lama dan informal dari kata masih, yang berarti tetap berada dalam kondisi atau keadaan yang belum berubah hingga waktu yang dimaksud.”