Manteri
“Bentuk ejaan lama dari kata mantri, merujuk pada pegawai rendah atau pembantu tenaga medis dan pejabat pemerintahan, khususnya yang bertugas di bidang kesehatan seperti “mantri cacar” atau “mantri kesehatan”.”
Mesin waktu ke era kolonial dan awal kemerdekaan. Mengarsip evolusi ejaan lawas Van Ophuijsen hingga Ejaan Soewandi (Republik), serta ragam istilah klasik pra-EYD.
“Bentuk ejaan lama dari kata mantri, merujuk pada pegawai rendah atau pembantu tenaga medis dan pejabat pemerintahan, khususnya yang bertugas di bidang kesehatan seperti “mantri cacar” atau “mantri kesehatan”.”
“Bentuk arkais dari “seterimanya”, yaitu konjungsi temporal yang bermakna sesudah diterima atau setelah menerima sesuatu, digunakan untuk menandai urutan waktu dalam suatu peristiwa atau tindakan. Kata ini ditulis mengikuti kaidah Ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelum tahun 1947, di mana huruf 'u' ditulis sebagai 'oe' dan akhiran '-nya' ditulis sebagai '-nja'.”
“Ejaan lama dari kata kerja, merujuk pada aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh nafkah atau memenuhi kewajiban sehari-hari.”
“Kata depan yang menyatakan tujuan, peruntukan, atau kepentingan suatu tindakan. Merupakan penulisan boeat dalam “Ejaan Van Ophuijsen” yang berlaku sebelum tahun 1947, setara dengan kata buat dalam ejaan modern.”
“Berada dalam keadaan bernyawa dan menjalankan fungsi kehidupan. Kata ini merupakan penulisan hidup dalam “Ejaan Van Ophuijsen” yang berlaku sebelum tahun 1947, di mana huruf 'u' ditulis sebagai 'oe'.”
“Rakjat adalah istilah yang mengacu pada rakyat biasa atau masyarakat umum pada masa tempoe doeloe (zaman dulu) Hindia Belanda. Kata ini menggambarkan golongan sosial rendah yang tidak memiliki status atau kedudukan tinggi, berbeda dengan para priyayi, pegawai pemerintah, atau bangsawan.”
“Makhluk berakal budi yang memiliki perasaan, kehendak, dan kemampuan untuk berpikir; “orang”. (Sinonim Modern: manusia)”
“Seorang individu yang menelaah atau menafsirkan tulisan dalam teks literatur dan media massa. Istilah ini merujuk pada khalayak sasaran dari sebuah narasi atau berita dalam konteks perkembangan bahasa Indonesia awal yang menggunakan ortografi sistem Van Ophuijsen atau ejaan lama.”
“Bentuk ejaan lama dari kata sebabnya, merujuk pada alasan, penyebab, atau pangkal dari suatu kejadian atau keadaan, yang ditulis menggunakan kaidah “Ejaan Van Ophuijsen” dengan penambahan akhiran posesif ketiga tunggal '-nja' sebagai pengganti '-nya'.”
“Doeloe adalah kata sifat yang berarti 'dahulu', 'lampau', atau 'zaman dulu'. Dalam konteks 'tempo doeloe', merujuk pada masa kolonial atau era yang sudah berlalu.”
“Satoe adalah angka satu dalam bahasa Melayu tempo doeloe, menggunakan ejaan Van Ophuijsen. Kata ini sering dipakai dalam dokumen kolonial dan surat kabar masa lalu.”
“Segala sesuatu yang berkenaan dengan “perkara”, keadaan, atau situasi yang melingkupi suatu peristiwa atau kondisi tertentu; mencakup seluruh aspek dan detail dari suatu hal.”
“Kata keterangan yang menyatakan kesamaan perbuatan atau keadaan, bermakna “pula” atau “demikian juga”.”
“Bentuk ejaan lama dari kata tentu, bermakna pasti, tidak diragukan lagi, atau sudah jelas adanya; digunakan dalam konteks kepastian atau keyakinan penuh.”
“Ejaan lama dari kata perempuan, merujuk pada individu berjenis kelamin wanita atau seseorang yang dilahirkan dengan jenis kelamin feminin. Bentuk penulisan ini menggunakan sistem ejaan “Van Ophuijsen” yang merepresentasikan bunyi u dengan diftong oe, lazim dipakai dalam teks resmi dan sastra Melayu era kolonial.”
“Merujuk pada kata tugas yang menyatakan batas akhir suatu waktu, tempat, atau keadaan. Merupakan varian ortografi nonstandar dari kata “sampai” yang lazim ditemukan dalam teks Melayu Klasik dan sastra Hindia Belanda.”
“Sesuatu yang bersifat jelas, terang, dan dapat dilihat dengan gamblang oleh panca indra. Kata ini merujuk pada kondisi yang “benar-benar terbukti” atau fakta yang tidak diragukan lagi kebenarannya dalam konteks fisik maupun pemikiran.”
“Istilah arkaik untuk jiwa yang merujuk pada roh manusia, nyawa, atau daya hidup yang bersifat rohani. Kata ini mendefinisikan esensi batiniah seseorang yang terpisah dari jasad fisik serta menjadi pusat dari perasaan dan pemikiran manusia dalam konteks sastra serta kehidupan.”
“Alat tukar atau standar pengukur nilai yang sah, dikeluarkan oleh pemerintah sebuah negara. Merupakan bentuk ejaan lama dari kata “uang” yang digunakan secara luas pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan.”
“Penyakit menular yang disebabkan oleh “virus variola”, ditandai dengan demam tinggi dan ruam berisi cairan pada seluruh permukaan kulit. Kata ini merupakan penulisan dalam Ejaan Van Ophuijsen yang digunakan sebelum tahun 1947.”
“Frasa yang merujuk pada “masa lampau” atau periode sejarah tertentu, sering kali diasosiasikan dengan nostalgia terhadap era kolonial Hindia Belanda.”
“Kata depan yang menyatakan tujuan, maksud, atau peruntukan sesuatu; bentuk ejaan lama dari 'untuk'”
“Ejaan lama dari kata “rumah”, merujuk pada bangunan atau tempat kediaman yang digunakan sebagai tempat tinggal, sesuai dengan sistem ejaan Van Ophuijsen yang berlaku pada era kolonial Hindia Belanda.”
“Merasa cemas, gelisah, atau tidak tenang terhadap sesuatu yang belum terjadi atau yang dikhawatirkan akan terjadi. Kata ini merupakan bentuk penulisan “khawatir” dalam Ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelum tahun 1947.”