Estri
“Bentuk “krama” (ragam halus) dalam bahasa Jawa untuk menyebut perempuan atau wanita, digunakan sebagai padanan sopan dari kata wadon dalam ragam ngoko.”
Temukan kekayaan kosakata Indonesia, mulai dari bahasa gaul Jakarta hingga dialek daerah yang berumur ratusan tahun, disusun secara alfabetis untuk memudahkan Anda.
“Bentuk “krama” (ragam halus) dalam bahasa Jawa untuk menyebut perempuan atau wanita, digunakan sebagai padanan sopan dari kata wadon dalam ragam ngoko.”
“Bentuk slang santai dari kata bisa, yang berarti mampu atau sanggup melakukan sesuatu; sering digunakan sebagai ungkapan persetujuan atau konfirmasi kemampuan, setara dengan kata “oke” atau “bisa” dalam percakapan sehari-hari.”
“Kata keterangan yang bermakna “hanya” atau “semata-mata”. Digunakan untuk membatasi atau menekankan suatu hal. (Sinonim Modern: saja)”
“Kata sifat dalam bahasa Jawa yang bermakna bagus, indah, atau baik dalam kualitas maupun penampilan. Digunakan untuk memuji atau mendeskripsikan sesuatu yang memiliki nilai estetika atau kualitas yang tinggi.”
“Kata kerja yang menyatakan “kemampuan” atau “kesanggupan” untuk melakukan sesuatu atau menandakan adanya “kemungkinan” dalam tingkatan bahasa Jawa Krama.”
“Bentuk nomina turunan dalam bahasa Jawa ragam Krama Inggil, dibentuk dari kata dasar saged (mampu, bisa) dengan penambahan sufiks posesif -ipun (milik dia/nya); bermakna 'kemampuannya' atau 'kepandaiannya', merujuk pada kapasitas atau kecakapan seseorang yang diacu dalam konteks hormat.”
“Istilah anatomi yang merujuk pada bidang vertikal imajiner yang membagi tubuh atau organ menjadi bagian kanan dan kiri. Bidang ini “tegak lurus” terhadap bidang koronal dan “sejajar” dengan bidang median.”
“Preposisi dalam bahasa Jawa yang berfungsi menunjukkan titik asal, sumber, atau perpindahan dari satu lokasi ke lokasi lain. Kata ini merupakan variasi dari bentuk dasar saka yang secara spesifik menandakan hubungan ruang atau waktu yang berarti “dari” dalam konteks formal maupun informal.”
“Sifat atau perilaku seseorang yang sangat kaku, tidak fleksibel, dan berpegang teguh pada aturan atau prinsip secara “mutlak” tanpa kompromi.”
“Merujuk pada kata tugas yang menyatakan batas akhir suatu waktu, tempat, atau keadaan. Merupakan varian ortografi nonstandar dari kata “sampai” yang lazim ditemukan dalam teks Melayu Klasik dan sastra Hindia Belanda.”
“Kata ganti orang kedua tunggal dalam bahasa Jawa Krama Madya yang digunakan untuk menyapa lawan bicara dengan sopan; setara dengan “Anda” dalam bahasa Indonesia.”
“Partikel “sudah” dalam bahasa Jawa yang merupakan bentuk krama (halus) dari “wis” dalam dialek Jawa, menandakan selesainya suatu tindakan atau peristiwa.”
“Segala jenis busana atau penutup tubuh; dalam konteks bahasa Jawa, merujuk pada pakaian secara umum, mencakup semua “sandang” yang dikenakan seseorang sehari-hari.”
“Kata penolakan atau penyangkalan dalam ragam krama alus bahasa Jawa, yang berarti “tidak” atau “bukan”, digunakan sebagai bentuk sopan dan halus untuk menyatakan penolakan, ketidaksetujuan, atau penyangkalan terhadap suatu pernyataan.”
“Kata keterangan yang menyatakan tingkat intensitas atau derajat yang tinggi, merupakan bentuk krama dan krama inggil dari kata “banget” atau “sangat” dalam bahasa Jawa.”
“Nama diri dalam tradisi Jawa yang bermakna "pertanda" atau "isyarat", berasal dari akar kata sasmita dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna yang merujuk pada tanda, sinyal, atau petunjuk halus yang mengandung makna tersembunyi.”
“Satoe adalah angka satu dalam bahasa Melayu tempo doeloe, menggunakan ejaan Van Ophuijsen. Kata ini sering dipakai dalam dokumen kolonial dan surat kabar masa lalu.”
“Bentuk ejaan lama dari kata sebabnya, merujuk pada alasan, penyebab, atau pangkal dari suatu kejadian atau keadaan, yang ditulis menggunakan kaidah “Ejaan Van Ophuijsen” dengan penambahan akhiran posesif ketiga tunggal '-nja' sebagai pengganti '-nya'.”
“Sebuah adverbia penunjuk waktu yang menyatakan durasi yang sangat singkat atau tidak lama. Kata ini berfungsi sebagai penanda aspek temporal untuk menunjukkan suatu jeda pendek atau kondisi segera dalam konteks dialek Banyumasan sebagai padanan kata “sebentar”.”
“Pemisahan komponen material dalam campuran beton akibat kurangnya kohesi. Hal ini mengakibatkan distribusi “agregat” yang tidak merata dalam struktur beton.”
“Cabang ilmu geofisika yang mempelajari fenomena “gempa bumi” dan perambatan getaran seismik di dalam bumi secara sistematis. Disiplin ini mencakup analisis mekanisme sumber gempa, struktur internal bumi, serta upaya pemantauan dan mitigasi risiko bencana alam yang ditimbulkan oleh aktivitas tektonik tersebut.”
“Adjektiva yang merujuk pada kondisi berbeda atau tidak sama antara satu hal dengan hal lainnya. Kata ini digunakan untuk menekankan adanya kontras, kelainan, atau diskrepansi pada wujud, sifat, maupun rasa suatu objek dalam konteks perbandingan.”
“Bilangan pokok dalam bahasa Jawa yang bermakna empat, digunakan dalam ragam ngoko maupun krama sebagai padanan numeralia “empat” dalam bahasa Indonesia standar.”
“Ungkapan slang yang bermakna setuju atau sepakat, digunakan sebagai respons afirmatif dalam percakapan informal sehari-hari.”
“Keadaan yang membosankan, monoton, atau menimbulkan rasa jenuh; dapat juga merujuk pada sesuatu yang berbau tidak sedap atau tidak menyenangkan tergantung konteks situasi.”
“Batang besi atau “sengkang” yang dipasang melingkar pada tulangan utama beton untuk menahan gaya geser dan torsi.”
“Kata slang dari ragam prokem Jakarta era 1980-an yang merujuk pada senjata, khususnya senjata tajam atau senjata api yang digunakan dalam konteks kriminal atau jalanan.”
“Kata bilangan yang menunjukkan jumlah “satu kali” dalam tingkatan bahasa Jawa Krama alus.”
“Menunjukkan kuantitas “satu kali” atau frekuensi yang terjadi hanya dalam satu urutan kejadian tunggal.”
“Bentuk arkais dari “seterimanya”, yaitu konjungsi temporal yang bermakna sesudah diterima atau setelah menerima sesuatu, digunakan untuk menandai urutan waktu dalam suatu peristiwa atau tindakan. Kata ini ditulis mengikuti kaidah Ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelum tahun 1947, di mana huruf 'u' ditulis sebagai 'oe' dan akhiran '-nya' ditulis sebagai '-nja'.”
“Ungkapan yang berarti “sedikit pun tidak”. Frasa ini berperan sebagai penegas dalam kalimat negatif untuk menyatakan ketiadaan atau penolakan dengan intensitas mutlak. Penggunaan “sethithik wae” menekankan bahwa tidak ada bagian sekecil apa pun dari suatu hal yang diakui atau dirasakan.”
“Menunjukkan kesepakatan, keselarasan, atau persetujuan terhadap suatu usulan atau pendapat. Kata ini menggambarkan keadaan pikiran yang seiring atau sependapat dengan orang lain dalam sebuah keputusan. Digunakan untuk menegaskan bahwa seseorang berada dalam posisi yang sama mengenai suatu perkara.”
“Bilangan bulat yang bernilai sebelas dalam bahasa Jawa, merupakan bentuk leksikon numeralia Jawa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, khususnya dalam ragam ngoko.”
“Memiliki arti penting atau “bermakna”. Mengindikasikan adanya dampak yang besar atau relevansi yang kuat terhadap suatu “situasi” atau “fenomena”. Sesuatu yang “signifikan” menunjukkan “keberadaan pentingnya” yang tidak dapat diabaikan atau diremehkan dalam “konteks” tertentu.”
“Silent Generation adalah istilah yang merujuk pada kelompok demografi individu yang lahir antara tahun 1928 dan 1945. Generasi ini tumbuh dalam periode pasca-Depresi Besar dan Perang Dunia II, menyebabkan mereka cenderung memiliki karakteristik konformis, berhati-hati, dan menghargai stabilitas.”
“Proses penggabungan berbagai elemen, komponen, atau gagasan yang terpisah untuk membentuk suatu “keseluruhan” yang baru, koheren, dan terpadu. Dalam konteks ilmiah dan filosofis, sintesis merupakan tahap tertinggi dalam pemikiran analitis, yakni kemampuan mengintegrasikan informasi dari berbagai sumber menjadi satu kesimpulan atau produk intelektual yang utuh.”
“Singkatan teknis dari “pasir” dan “batu”, merujuk pada material campuran agregat kasar dan halus yang digunakan sebagai lapisan pondasi dalam konstruksi bangunan atau pengerasan jalan.”
“Singkatan dari frasa Jawa 'Siji tok' yang bermakna 'satu saja' atau 'hanya satu'. Digunakan untuk menyatakan kuantitas minimal atau penekanan pada kesederhanaan pilihan.”
“Istilah yang merujuk pada sesuatu yang tidak pasti, ambigu, atau berada di antara dua kondisi”
“Kata seru (interjeksi) dalam bahasa gaul yang digunakan untuk mengekspresikan kekaguman atau penilaian bahwa sesuatu sangat “keren”, mengesankan, atau luar biasa.”
“Kata bilangan dalam ragam prokem Jakarta era 1980-an yang bermakna satu, merupakan hasil modifikasi fonologis dan penambahan suku kata khas bahasa sandi remaja perkotaan pada masa itu.”
“Entah kenapa atau dengan cara yang tidak jelas, tapi berhasil; biasanya dipakai ketika sebuah masalah bisa solve sendiri tanpa alasan yang jelas.”
“Angka atau bilangan sembilan dalam bahasa Jawa, merupakan bentuk “ngoko” dari kata bilangan pokok yang digunakan secara luas dalam percakapan sehari-hari masyarakat Jawa.”
“Bersikap “sombong” atau arogan secara berlebihan, seringkali disertai sikap meremehkan orang lain; setara dengan kata sehari-hari sok keren atau belagu.”
“Cabang ilmu linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat, mencakup analisis variasi bahasa, penggunaan bahasa dalam konteks sosial, serta dampaknya terhadap identitas dan interaksi sosial.”
“Teknik analisis ilmiah yang mempelajari interaksi antara radiasi elektromagnetik dan materi untuk menentukan struktur, komposisi, atau sifat fisik suatu zat. Metode ini mengukur intensitas cahaya yang diserap, dipancarkan, atau dihamburkan sebagai fungsi dari panjang gelombang atau frekuensi.”
“Bagian atau sampel dari suatu kelompok, organisme, atau materi yang diambil untuk tujuan penelitian, pemeriksaan, atau dokumentasi ilmiah. Dalam konteks medis dan laboratorium, istilah ini merujuk pada representasi fisik yang digunakan sebagai objek analisis untuk menentukan karakteristik keseluruhan.”
“Menceritakan gosip, rahasia, atau informasi pribadi seseorang kepada orang lain, terutama dalam konteks percakapan santai atau media sosial.”
“Keadaan terhentinya suatu aliran, gerakan, atau perkembangan yang menyebabkan kondisi tidak aktif atau statis. Dalam konteks ekonomi dan sosial, istilah ini merujuk pada masa ketika tidak terjadi pertumbuhan atau kemajuan yang signifikan secara berkelanjutan.”
“Staycation adalah kegiatan liburan santai yang dilakukan tanpa harus bepergian jauh dari rumah atau area tempat tinggal, seringkali melibatkan aktivitas rekreasi di lingkungan sekitar. Konsep ini juga dapat diperluas untuk liburan ke lokasi yang relatif dekat, tergantung pada interpretasi individu. Kata ini menunjukkan preferensi untuk relaksasi dan kenyamanan tanpa kerumitan perjalanan panjang.”
“Sikap pura-pura tenang dan tidak peduli ketika seseorang sebenarnya sedang panik, gugup, atau tertekan dalam suatu situasi. Kata ini menggambarkan ekspresi wajah atau tingkah laku yang dibuat-buat seolah segalanya baik-baik saja, padahal kondisi batin sebaliknya. Sering digunakan untuk menyindir atau menggambarkan reaksi seseorang secara humoris.”
“Istilah Jawa yang berarti bersikap santai, tidak terburu-buru, atau melonggarkan ketegangan dalam menghadapi suatu situasi.”
“Bersifat acak atau melibatkan “probabilitas”, di mana hasil suatu proses atau peristiwa ditentukan oleh variabel-variabel yang tidak dapat diprediksi secara pasti, melainkan hanya dapat diperkirakan melalui distribusi kemungkinan secara statistik.”
“Cabang ilmu geologi yang mempelajari susunan, keterdapatan, dan hubungan antar-lapisan batuan di kerak bumi. Bidang ini berfokus pada analisis urutan kronologis “sedimen” atau “batuan” untuk memahami sejarah pembentukan lingkungan fisik bumi secara sistematis dan ilmiah.”
“Berkaitan dengan “substansi”, bukan hanya bentuk atau rupa. Menekankan pada hal yang “pokok” atau “mendasar”.”
“Keadaan memiliki harta benda, kekayaan materi, atau kelimpahan sumber daya yang berlebih. Selain itu, istilah ini juga merepresentasikan kondisi “kaya” secara spiritual, batin, atau pengalaman hidup yang mencerminkan kesejahteraan menyeluruh dalam perspektif budaya Jawa.”
“Keadaan ekspresi wajah yang menampakkan suasana hati “ceria”, gembira, dan penuh semangat yang terpancar secara nyata.”
“Berakar dari istilah dalam mitologi seperti sundel bolong (figur hantu perempuan dalam cerita rakyat Jawa). Karena asosiasinya sangat negatif, kata ini termasuk kategori kata makian atau umpatan ekstrem jika diarahkan pada seseorang atau suatu keadaan.”
“Tindakan mengirim ulang atau memperbarui sebuah unggahan atau utas di forum daring agar kembali tampil di halaman depan atau bagian atas, dengan tujuan meningkatkan visibilitasnya.”
“Kegiatan touring atau jalan-jalan menggunakan sepeda motor atau mobil pada pagi hari, biasanya dilakukan secara berkelompok untuk menjalin silaturahmi dan menikmati suasana pagi sambil berkendara.”
“Tingkatan perbandingan dalam linguistik yang menyatakan sifat atau keadaan “paling” tinggi atau terbaik di antara kelompoknya.”
“Peristiwa ledakan katastrofik dari sebuah “bintang” masif yang menandai akhir dari siklus hidupnya, mengakibatkan pelepasan energi dalam jumlah sangat besar dan pembentukan elemen kimia berat di alam semesta.”
“Kondisi “waktu” menjelang malam ketika matahari hampir terbenam di ufuk barat, menandai berakhirnya siang dan menjelang malam.”
“Kata sifat atau keterangan yang menunjukkan durasi waktu yang panjang atau lama. Dalam konteks bahasa Jawa, istilah ini secara spesifik menggambarkan rentang waktu yang telah berlalu atau proses yang membutuhkan waktu banyak untuk selesai.”
“Tradisi budaya masyarakat Jawa yang dirayakan pada hari ketujuh setelah Hari Raya Idul Fitri, dikenal juga sebagai “Lebaran Ketupat”, ditandai dengan acara silaturahmi, saling memaafkan, dan penyajian ketupat sebagai hidangan khas.”
“Konfigurasi astronomis yang membentuk “garis lurus” sempurna antara tiga benda langit dalam sebuah sistem gravitasi.”
“Kata ganti orang pertama tunggal dalam ragam bahasa Melayu arkais dan ejaan lama, bermakna “saya” atau “aku”; digunakan sebagai subjek maupun objek dalam kalimat.”
“Kata serapan dari bahasa Sunda yang menggambarkan kondisi sangat kelaparan atau lapar luar biasa. Tingkat kelaparan yang dirasakan sudah mencapai tahap sangat mengganggu dan tidak tertahankan. ”
“Kondisi canggung, gugup, atau tidak nyaman yang ditunjukkan seseorang ketika mendapat perhatian, pujian, atau berada dalam situasi yang membuatnya malu. Berasal dari singkatan 'salah tingkah', menggambarkan reaksi spontan seperti gerak-gerik kikuk, tidak tahu harus berbuat apa, atau kehilangan ketenangan saat merasa jadi pusat perhatian.”
“Sampoerna adalah istilah tempo doeloe jang menandakan kesempurnaan atau kelengkapan total. Digunakan untuk memuji sesuatu dengan sangat tinggi, mengekspresikan bahwa sesuatu itu sempurna, lengkap, dan tak ada kekurangan. Istilah ini umum dalam dokumen resmi dan korespondensi Hindia Belanda awal abad ke-20.”
“Istilah slang yang menggambarkan keadaan atau sikap tenang, rileks, dan tidak terburu-buru dalam menghadapi situasi tertentu. Kata ini sering digunakan untuk menganjurkan ketenangan dan menghindari kepanikan, menunjukkan bahwa seseorang tidak mudah khawatir atau tegang.”
“Sedikit cahaya atau harapan yang kecil; secuil atau seberkas yang tipis dan hampir tidak terlihat.”
“Tipe pria keren, independen, dan tidak bergantung pada persetujuan sosial atau media sosial. Istilah dari internet culture yang viral di TikTok dan Twitter, terinspirasi dari 'sigma male' hierarchy meme”
“Persyaratan atau kondisi yang harus dipenuhi; ketentuan yang ditetapkan sebagai prasyarat dalam suatu perjanjian, transaksi, atau kesepakatan.”
“Kondisi tidak bisa membantah atau kehabisan argumen.”
“Istilah untuk menggambarkan seseorang yang mengikuti tren atau gaya tertentu dalam musik, fashion, atau subkultur. Biasanya merujuk pada anak muda yang tampil kekinian, memiliki selera estetika khusus, dan aktif dalam komunitas atau genre tertentu.”
“Istilah internet yang mengacu pada tren meme absurd dan nonsensical yang viral di media sosial, sering dikaitkan dengan konten humor random tanpa makna jelas atau logika yang masuk akal.”
“Kemampuan atau keahlian pemain game dalam menguasai mekanik, strategi, dan teknik bermain game kompetitif”
“Ajakan atau seruan untuk pergi bersama, basically seperti 'ayo' tapi lebih casual dan trendy di kalangan anak muda Jakarta Selatan..”
“Soeka adalah bentuk archaik dari 'suka' dalam bahasa Melayu klasik, berarti menyukai, senang, atau berkenan dengan sesuatu. Sering digunakan dalam konteks kesukaan pribadi atau persetujuan.”
“Bentuk ejaan Van Ophuijsen dari kata surat, merujuk pada lembaran tulisan berisi pesan, informasi resmi, atau korespondensi pribadi yang dikirimkan kepada penerima tertentu. Mencakup dokumen tertulis dalam berbagai bentuk, termasuk “soerat kabar” sebagai penerbitan berkala dan soerat resmi dalam administrasi pemerintahan kolonial.”
“Kata kasar dalam bahasa Jawa untuk mengumpat atau mengekspresikan kejengkelan, serupa dengan 'sialan' atau 'brengsek'”
“Kata tanya untuk menanyakan identitas atau nama seseorang, versi santai dari 'siapa'.”
“Sotoy adalah istilah untuk seseorang yang sok tahu atau berpura-pura tahu tentang suatu hal.”
“Pemain yang memiliki banyak skin premium atau langka di game, biasanya tipikal kolektor pemain game yang memiliki skin mahal. Skin adalah item kosmetik atau hiasan digital yang mengubah tampilan visual karakter.”
“Merasa enggan atau khawatir untuk melakukan sesuatu karena “rasa segan”, tidak enak hati, atau tidak ingin menyakiti perasaan orang lain.”
“Surantap adalah kata slang tanpa makna leksikal khusus yang digunakan sebagai penguat ekspresi, biasanya dipasangkan dengan kata lain (terutama mantap) untuk menambah efek penekanan, kelucuan, dan irama bunyi.”
“Idiom yang melambangkan “kesetiaan” seorang istri untuk senantiasa mendampingi suami dalam kondisi apa pun, baik suka maupun duka.”